Kita tidak bisa menampik bahwa serangan Covid-19 telah memporak-porandakan tatanan kehidupan umat manusia saat ini. Proses belajar mengajar, pekerja/karyawan bahkan ibadah pun harus dilakukan dari rumah. Perputaran roda ekonomi nyaris terhenti atau harus dibongkar dan melakukan penyesuaian total. Realita ini menimbulkan kecemasan dan kebingungan untuk kelangsungan kehidupan nanti. Data penderita COVID-19 di Indonesia terus bertambah, ini semakin memicu ketakutan, dan kekuatiran kita. Apalagi banyak warga gereja yang menjadi korban pandemi COVID-19 ini. Mungkin diantaranya ada yang kita kenal atau bahkan bagian dari keluarga kita. Perasaan sedih dan kehilangan tidak terhindarkan lagi. Mungkin silih berganti dengan perasaan kecewa, marah ataupun benci atas kenyataan yang terjadi.







