BAB I

AKAR SEJARAH GKI DELIMA

 

Sejarah lahirnya Gereja Kristen Indonesia Jemaat Delima dan kehidupannya berawal tahun 1984 sampai dengan tahun 1986. Sungguh nyatapekerjaan Tuhan Yesus Kristus melalui keberadaan GKI Delima. Kami mengumpulkan data melalui wawancara terhadap beberapa nara sumber, studi literatur dan diskusi konfirmatif dengan beberapa saksi hidup. Didalam tulisan ini ada kutipan langsung dari sumber aslinya, ada pula yang ditulis ulang dari kumpulan informasi. Walau kami mengalami keterbatasan dalam penulisan, namun benang merah tetap dapat terlihat dengan jelas agar dalam merayakan Ulang Tahunnya yang ke-30 jemaat dapat mengenal perjalanan sejarah GKI Delima.

 

Persekutuan Wilayah Tomang Barat

Sekitar tahun 1974 sudah terbentuk persekutuan oikumene di wilayah Tomang Barat atas gerakan beberapa anggota GKI Nurdin dan Jemaat GKI lainnya. Pada akhir tahun 1975, diadakan Persekutuan Doa Wilayah menjelang Perjamuan Kudus, kemudian menjadi Persekutuan Doa Wilayah setiap bulan sekali. Melihat perlunya pelayanan lebih jauh atas jemaat GKI di wilayah ini, maka pada tahun 1976 Majelis Jemaat GKI Nurdin membentuk Pos Pekabaran Injil (PI) di wilayah Tomang Barat ini, bersamaan dengan Pos PI wilayah Kavling Polri dan Pesing. Kemudianterbentuklah persekutan rutin setiap minggu di garasi rumah Bapak Yan Pangemanan, di Jl. Delima IV no.5.

 

Persekutuan mula-mula itu dihadiri sekitar 15-30 orang. Diantaranya, Bapak dan Ibu Yan Pangemanan, Bapak dan Ibu Tedjalaksana, Bapak dan Ibu Yahya Bahana, Bapak dan Ibu Yos Budiman, Bapak dan Ibu Arif Budi Santoso, Ibu Wiyono, Bapak Christian Tahyar, dan lain-lain. Selain persekutuan diselenggarakan pula sekolah minggu yang dipimpin oleh Ibu Iwik Pangemanan dan Persekutuan Wanita yang dipimpin oleh Ibu Jeanny Tedjalaksana.

sejarah

 

 

GKI Wahid Hasyim berawal dari  misi penginjilan Board of Foreign Mission (BFM) dari Methodist Episcopal Church yang didirikan di Amerika Serikat tahun 1819. Penginjilan BFM kepada orang-orang Tionghoa perantauan mulai intensif dilakukan pada tahun 1905 oleh J. R. Denyes. Buah penginjilan ini melahirkan gereja-gereja Chung Hua Ci Tu Chiao Hwe (CHCTCH) 中华基督教会 atau Chinese Church of Christ , salah satunya GKI jemaat Wahid Hayim (Gang Asem lama Tanah Abang). 

Disebabkan adanya petinggi CHCTCH yang menyatakan dan meyakini tentang waktu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya, jemaat terpecah melibatkan Dewan Gereja Indonesia (DGI) dan aparat pemerintah. Namun dampaknya, bulan Maret 1954, 3 jemaat CHCTCH (Tanah Abang, Jatinegara dan Tangerang) bergabung kedalam Tiong Hoa Ki To Kauw Hwe (THKTKH). THKTKH adalah cikal-bakal GKI. CHCTCH Tanah Abang tersebut kini bernama GKI Wahid Hasyim. Perjalanan sejarah Jemaat ini mengalami beberapa kali pindah tempat kebaktian, hingga akhirnya dikemudian hari menempati Jl Wahid Hasyim no. 100 sampai saat ini.

 

GKI Nurdin berawal dari gerakan beberapa Umat Tuhan jemaat Gereja Asem Lama (sekarang GKI Wahid Hasyim) melalui persekutuan doa di wilayah grogol, Jakarta Barat. Persekutuan ini dimulaitahun 1958, dilakukan atas inisiatif keluarga K.S. Prawira dan keluarga Oscar Widjaja dan didukung oleh keluarga Jusuf Sulaiman dan Bapak Na Oen Soey.

Setelah berlangsung lebih kurang 5 tahun, tepatnya pada tanggal 19 Juni 1963 persekutuan doa ini dipindahkan ke Jl.Dr.Semeru Gg.III No.12 sebuah rumah pinjaman dari keluarga Pdt.Then Djin Soey yang saat itu bertugas melayani jemaat GKI di Jawa Tengah. Kepindahan ini nampaknya membawa perubahan, dari Persekutuan Doa menjadi Pos P.I. Kebaktian diadakan setiap minggu sore di bawah asuhan GKI Jabar Jl.Wahid Hasyim 100.

Tanggal 15 Juni 1969 Bakal Jemaat Grogol didewasakan menjadi Jemaat GKI Jabar ke 34 dalam Sinode GKI Jabar. Kebaktian peresmian terpaksa dilakukan dengan sangat sederhana di Jl. Dr. Semeru Gg.III No.12 . Kebaktian dilayani oleh Pdt.Lukito Handojo selaku Ketua Badan Pekerjaan Majelis Sinode GKI Jabar, mengingat rumah Jl.Dr.Nurdin Raya 37 belum dapat ditempati sebagaimana yang diharapkan karena situasi lingkungan sosial belum mendukung kehadiran gereja di daerah Grogol ini.

Atas campur tangan Tuhan yang luar biasa, maka segala tantangan dan hambatan dapat diselesaikan dengan keluarnya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta nomor: 2157/A/BKD/1969 tertanggal 24 Desember 1969 jemaat GKI Grogol diberikan izin untuk menggunakan rumah Jl.Dr.Nurdin Raya 37 sebagai tempat ibadah.

Persidangan majelis jemaat GKI Nurdin melihat potensi pertumbuhan jemaat yang sangat besar di wilayah Tomang Barat. Oleh karena itu, pada tanggal 26 Maret 1978 Majelis Jemaat GKI Nurdin meresmikan Pos PI Tomang Barat menjadi Bakal Jemaat (Bajem) Tomang Barat. Rumah Bapak Yan Pangemanan dikontrak untuk beberapa tahun dan Pdt. Girihardjo Loekita yang bertugas untuk menggembalakan bajem ini.  Pada 8 Januari 1979, Bajem GKI Tomang Barat diresmikan dan diteguhkan menjadi jemaat dewasa ke-42 dengan nama GKI Tomang Barat dengan Gembala Jemaat Pdt. Girihardjo Loekita.

 

(Foto 1.1) GKI Tomang Barat

Kerinduan yang kuat dan pergumulan yang keras dari jemaat GKI Tomang Barat untuk memiliki gedung sendiri akhirnya diwujudkan Tuhan dengan terbelinya sebidang tanah seluas 500m2 di Kepa Duri blok A Kav. 7. Maka pada tanggal 8 Januari 1983 resmilah jemaat GKI Tomang Barat tersebut bergereja di Kepa Duri.

 

Bakal Jemaat (Bajem) GKI Delima

Seiring berjalannya waktu, ternyata beberapa anggota jemaat yang tinggal di jalan Delima, jalan Tanjung Duren dan sekitarnya masih menghendaki adanya kebaktian di tempat yang lama, yakni di Jl. Delima IV No. 5.  Salah satu alasannya karena sebagian jemaat tersebut kesulitan untuk mendapatkan transportasi umum (becak), lagipula tempat kebaktian yang lama tidak terpakai/kosong.

 

Setelah dipergumulkan dengan serius dan lewat persidanganyang diwarnai perdebatan ketat, maka majelis jemaat akhirnya memutuskanuntuk tetap mengadakan kebaktian di tempat tersebut dengan membentuk pos pelayanan bakal jemaat di Delima dan komisi bakal jemaat. Peresmian  ini dilakukan dalam 2 kali kebaktian, yakni 6 maret 1983 di Kepa Duri dan 13 maret 1983 di Delima. Kebaktian rutinminggu di Delima saat itu sudah dilakukan 2 kali, yakni pagi hari pukul 8.00 WIB dan sore hari pukul 17.00 WIB.

Ternyata beberapa anggota jemaat yang tinggal di jalan delima, jalan tanjung duren dan sekitarnya masih menghendaki adanya kebaktian di tempat yang lama, yakni di Jl. Delima IV No. 5.  Sebagian jemaat tersebut kesulitan untuk mendapatkan transportasi umum (becak), lagipula tempat kebaktian yang lama tidak terpakai/kosong. Lewat persidangan majelis jemaat, perdebatan dan pergumulan yang ketat, oleh majelis jemaat akhirnya diputuskanlah untuk tetap adanya kebaktian di tempat tersebut dengan membentuk pos pelayanan bakal jemaat di Delima dan komisi bakal jemaat. Peresmian  ini dilakukan dalam 2 kali kebaktian, yakni 6 maret 1983 di Kepa Duri dan 13 maret 1983 di Delima. Kebaktian rutin di Delima saat itu sudah dilakukan 2 kali setiap minggu, yakni pagi hari pukul 8.00 wib dan sore hari pukul 17.00 wib.

Didalam anugerah Tuhan, kegiatan bakal jemaat (bajem) GKI Delima pada tahun 1983-1984 berkembang dengan baik. Rata-rata jumlah pengunjung 200 orang. Sekolah minggu, persekutuan doa wanita, persekutuan remaja-pemuda sudah berjalan.

Para penggerak jemaat diantaranya adalah Bapak Tedjalaksana, Bapak Suwandhio Gani, Bapak Gerard Setiadharma, Bapak Arif Budi Santoso, Bapak Herry Santosa, Bapak Eddy Sunarso, Bapak Budi Pudjianto, Bapak Agus Hartanto, Bapak Stefanus Sugijono, Ibu Ukky Sidharta, Ibu Yetty Sastrawinata, Ibu Emmy Haryadi, Ibu Kristina Widjaja, Ibu Jeanny Tedjalaksana, Ibu Kristiana Santoso, Ibu Supraptini Santoso, Ibu Deetje Soesatio, Ibu Jeanne Gani, Ibu Ratih Setiadharma, Ibu Ing Pudjianto, Ibu Otty Budiarto, Ibu Nur Wahyuni, dan lain-lainya.

 

 

(Foto 1.2 a,b,c) – Bajem GKI Delima

 

 

  

BAB II

GKI DELIMA MULA-MULA

 


(Foto 2.1) – Pembangunan GKI Delima

 

Lahirnya GKI Delima

Dengan anugerah Tuhan, GKI Delima lahir melewati proses yang relatif singkat tetapi dilematis. Beberapa anggota jemaat GKI Tomang Barat tetap menghendaki kebaktian di Jalan Delima berfungsi sebagai pos pelayanan saja, yaitu pos dari GKI Tomang Barat (sekarang GKI Kepa Duri) karena jaraknya yang “terlalu dekat”. Sementara itu, setiap minggu jumlah umat yang datang bersekutu  di jalan Delima semakin bertambah.Maka dalam waktu tidak lebih dari 4 bulan, akhirnya Bakal Jemaat Delima diresmikan menjadi jemaat yang dewasa dan mandiri. Kebaktian peneguhan danperesmian sebagai jemaat GKI Jabar yang ke-52 diselenggarakan oleh Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah Jawa Barat pada hari Sabtu 7 Juli 1984, pukul 18.00WIB yang dipimpin oleh Pdt. Semuel Obaja Purwadisastra. Dalam kebaktian tersebut diteguhkan pula Pdt. Tony Arwadi sebagai gembala jemaat, sekaligus dengan 12 orang  Tua-Tua (Majelis) Jemaat.

 

(Foto 2.2) – Majelis Jemaat Tahun 1984

 

Susunan Majelis Jemaat tahun 1984

Ketua Umum        : Pdt. Tony Arwadi
Ketua Bidang Kebersamaan : Tt. Tedjalaksana
Ketua Bidang Pembinaan : Pdt. Tony Arwadi
Ketua Bidang Oikmas : Tt. Eddy Sunarso
Ketua Bidang Sarpras : Tt. Suwandhio Gani,Alm.
Penulis I : Tt. Arif Budi Santoso,Alm.
Penulis II : Tt. Herry Santosa
Bendahara I : Tt. Agus Hartanto,Alm.
Bendahara II : Tt. Emmy Haryadi
Anggota Bidang Kebersamaan : Tt. Stefanus Sugiono
  : Tt. Yetty Sastrawinata
Anggota Bidang Pembinaan : Tt. Kristina Widjaja
Anggota Bidang Oikmas : Tt. Ukky Sidharta
Anggota Bidang Sarpras : Tt. Arif Budi Santoso,Alm.
  : Tt. Herry Santosa
  : Tt. Agus Hartanto,Alm.
  : Tt. Emmy Haryadi
Utusan ke klasis          : Tt.  Budi Pudjianto,Alm.

 

Keberadaan GKI Delima tahun 1984-1986

Dengan anugerah Tuhan sebagai jemaat penuh yang mandiri GKI Delima terus bertumbuh. Jumlah anggotanya meningkat 258 % yakni dari 79 anggota menjadi 204 anggota pada 7 Juli 1986. Peningkatan jumlah jemaat yang besar menjadi berkat bagi gereja, sekaligus tantangan baru untuk mempunyai gedung gereja sendiri dan mengusahakan pembangunannya. Melalui gerakan yang kuat dan tekad yang bulat dengan penyertaan Tuhan Yesus Kristus sang Kepala Gereja maka segala rintangan dapat dihadapi dan diatasi.

 


(Foto 2.3) – Mimbar Gereja Tahun 1984

 

Tantangan Pengadaan Gedung Gereja

Dengan kemurahan dan anugerah Tuhan, rumah tinggal seluas 289m2 di Jalan Delima IV no. 5 milik Bapak Yan Pengemanan akhirnya dapat terbeli. Bangunan tersebut dibeli dengan nilai Rp58,2 juta. dengan menggunakan dana yang berasal dari pinjaman dari jemaat dan BPK Jawa Barat (Kini BPK Penabur), upaya pencarian dana oleh komisi wanita serta persembahan dari jemaat. Pembayaran dapat dilakukan lunas bertahap Rp 25 juta pada 10 Januari 1985, Rp 10 juta pada 10 Februari 1985 dan Rp23,2 juta pada 10 Mei 1985. Pencarian dana untuk membayar pinjaman pihak ketiga tetap berlanjut. Untuk itu pada 3 Maret 1985 diadakan perjamuan kasih, dan sejak itu perjamuan kasih diadakan seusai kebaktian pagi dan kebaktian sore setiap bulan hingga kebutuhan dana terpenuhi. Pinjaman dana sebesar Rp20 juta dari BPK Jawa Barat terlunasi awal Maret 1986.


(Foto 2.4 dan 2.5) – Pembangunan Gedung Gereja

Tantangan Pembangunan Gedung Gereja

“Sebagaimana Raja Daud dalam menerima berkat Tuhan, dia merasa berkewajiban untuk mendirikan rumah Tuhan yang layak (2Samuel 7:1-3), maka kita pun sebagai anak-anakNya yang selalu diberkatinya wajib mempunyai niat yang sama.” Demikian kutipan kalimat dari surat edaran Panitia Pembangunan Delima pada Januari – Februari 1985.

 

Panitia Pembangunan Gedung Gereja dibentuk pada bulan November 1984 (Susunan kepanitiaan ini mengalami perubahan di kemudian hari)

Ketua I : Bapak Gerard Setiadharma
Ketua II : Bapak Hendra Komala (Anggota GKI Samanhudi)
Penulis I : Ibu Otty Budiarto
Penulis II : Bapak Hardjoko Susanto
Bendahara : Bapak Ridwan Utama
Anggota : Ibu Mira Kriswandi
                           : Bapak James Daun
  : Bapak Tedjalaksana

Tantangan kembali terjadi, karena dibutuhkan dana yang cukup besar untuk pembangunan gedung gereja yang “layak”. Gerakan Doa bersama untuk pembangunan gedung gereja dilaksanakan setiap hari pukul 19.00 WIB. Pada jam tersebut, setiap anggota jemaat dimanapun dia berada diminta untuk meluangkan waktu sejenak untuk berdoa kepada Tuhan Yesus agar pembangunan gedung gereja dapat segera terealisasi.

Terhitung sejak 2 Desember 1985, hasil kantong persembahan yang berwarna merah, pada kebaktian minggu pertama disisihkan untuk dana pembangunan gedung gereja. Perjamuan kasih pun diteruskan. Penjualan makanan dilakukan oleh Komisi Wanita setiap minggu ke-2 selesai kebaktian pertama.

Tuhan memberkati GKI Delima dengan berlimpah, pada 15 Januari 1987 pembongkaran rumah tinggal dimulai.Pada waktu itu, uang kas gereja yang ada hanya sebesar Rp 12 juta sedangkan biaya yang dibutuhkan Rp 73,3 juta. Melalui doa, partisipasi, kerja keras, kebersamaan dan dukungan segenap jemaat pembangunan itu dimulai. Majelis Jemaat, Komisi Wanita, Komisi Pemuda dan semua aktivis berusaha keras didalam pencarian dana melalui berbagai macam cara, antara lain pembuatan makanan rumahan, bahkan sampai kepada penjualan dan pengirimannya. Ternyata, dukungan dana juga mengalir dari jemaat-jemaat GKI lain di lingkungan klasis Jakarta Barat dan Sinode GKI Jabar.

Setelah selesai pembangunan, sungguh heran saldo dana pembangunan gereja malah lebih Rp12 juta. Sama nilainya dengan sebelum masa pebangunan dimulai. Sisa dana ini dijadikan modal untuk membeli 2 bangunan rumah di belakang gereja dikemudian hari, yakni tahun 1988.

Akhirnya, 30 Oktober 1987, pukul 18.00 WIB gedung gereja GKI Delima yang baru diresmikan oleh Pdt. Lukito Handojo, ketua BPMS GKI Jabar saat itu. Majelis Jemaat, Komisi-Komisi, para aktivis dan seluruh jemaat menyambut gembira hasil perjuangan bersama didalam Tuhan.

 

Kegiatan dan Peristiwa di GKI Delima 1984-1986

Di masa itu Jemaat GKI Delima dibagi ke dalam 7 wilayah, Wilayah I ( Sekitar Jalan Delima), Wilayah II (Sekitar Kebon Jeruk , Alfa Indah, Larangan),  Wilayah III (Sekitar Tanjung Duren Utara, Taman Apel), Wilayah IV (Sekitar Lontar, Salak, Menteng, Manggis, Rambutan), Wilayah V (Sekitar Taman Cengkareng Indah, Bojong, Bekasi, Citeureup, Pondok Kelapa, Duren Sawit), Wilayah VI (Sekitar Tanjung Duren Timur, Way Seputih), Wilayah VII (Sekitar Tomang Barat Baru, Taman Kedoya, Kepa Duri).

Kebaktian Minggu diadakan 2 kali, Kebaktian Umum I pagi pukul 8.00 WIB (kemudian diubah menjadi pukul 8.30 WIB), Kebaktian Umum II sore pukul 17.00 WIB. Tiga komisi telah aktif dan memiliki jadwal persekutuan rutin, pertama persekutuan Komisi Wanita setiap hari rabu pukul 16.00 WIB, kedua persekutuan Komisi Remaja setiap pukul 18.30 WIB (kemudian diubah menjadi pukul 9.30 WIB, tetapi karena jemaat dan simpatisan yang hadir berkurang diubah kembali menjadi pukul 19.00 WIB), ketiga persekutuan komisi anak setiap minggu pukul 8.00 WIB sedangkan persiapan guru sekolah minggu setiap hari Rabu pukul 18.00 WIB. Persekutuan Komisi Anak diadakan di garasi rumah Pdt. Junus Atmarumeksa.

       I.            Kegiatan dan Peristiwa dalam Bidang Pembinaan

Bidang pembinaan menangani urusan-urusan peningkatan mutu iman dan ketrampilan anggota.

  1. Pemahaman Alkitab (PA)

PA berlangsung rutin setiap hari Jumat pukul 19.00 WIB, kecuali pada saat bertepatan dengan acara gerejawi seperti Natal, Paskah, dll. PA ini dipimpin oleh Pdt. Tony Arwadi. Beberapa kali juga dipimpin oleh pengerja Yayasan Komunikasi Bersama (WASIAT) Sdr. Liliek Maria,S.Th.(Alm), mahasiswa praktek Sdr. Immanuel Adam dan Sdr. Omo Hasyim. Materi PA diberikan secara tematis maupun paket dengan makalah tertulis. Kegiatan PA ini cukup mendapat perhatian dari kalangan pemuda dan dewasa, dimana diikuti sekitar 30 orang. Contoh tema-tema PA di tahun 1984-1986, “Air Kehidupan”; “Bagaimanakah caranya berdoa”; “kedatangan kembali Kristus”; “Baptisan Roh”; “Iman dan Mujizat”; “Tujuh Dosa Maut”; “Saksi Yehovah”; “Biasakanlah Melayani”; “Miskin Jalan kepada Bahagia”; “Lapar dan Haus Jalan kepada Bahagia”.

  1. Katekisasi

Sebelum anggota jemaat mengaku imannya, harus terlebih dahulu mengikuti katekisasi minimal selama 6 bulan. Katekisasi diberikan setiap hari Selasa untuk 2 kelas, yakni pagi pukul 8.30 WIB dan sore pukul 18. 30 WIB. Beberapa saudara-saudari yang dibaptis dewasa dan sidi di tahun 1984 – 1986, berjumlah 66 orang (tidak termasuk anak-anak) diantaranya Paulina, Wati Mulyanti, Maria Imanda, Sawaludin, Chandra Gunawan, Robin Tambunan, Witanto Gunawan beserta keluarga, Anggriani, Estu Kantiningtyas, Ny. Tio Tiang Nio, Supeno Rahman, Eddy Surjanto, Rossana Mercy Siahaya, Eka Djuhari Suryadi, Hermulianto Pangalila, Rudy Ku Kuang, Bambang Suryanto Lukito, Yvone Sri Arijani, Debora Pangestu, Ruth Pangestu, Maryam Pangestu, B. Tujin Nainggolan, Budiharto Sanusi, Alexander Wijaya, Sanny Kumala, Greta Tine Kumala, Agus Yonatan, Lina Susanto, Lianawaty, Elizabeth Budiarto, Ridwan Halimsetiono, Justinus Aditya Sidharta, Jeffry Z. Lukas, Robert Afaratu, Tan Som Khim, Ibrahim S. Wirjadi. Baptis anak berjumlah 16 orang, diantaranya Andreas Dani Prasetyo, Iman Yulianto Suhartono, Tirza Serafina Gani, Titien Rahman, Agustiah Rahman, Lulu Meivina Tjenokit, Darwin Tjenokit, Rosaline Roomy, Ryan Kristomuljono, Meita Octaviani Lukito, Novianto Setya Putra, Aria Yudistira.

  1. Kebaktian Penyegaran Iman (KPI)

Hari Sabtu 28 September dan Minggu 29 September 1985, dua hari berturut-turut diadakan KPI dengan tema “Bertumbuh Dalam Kristus” dilayani oleh Pdt. Caleb Tong.

  1. Pembinaan Internal Rutin dan Non-Rutin

Pembinaan Tua-Tua dan calon Tua-Tua diadakan baik pada tingkat klasis maupun jemaat. Pembinaan untuk Tua-Tua, 6 September 1984  tentang Nama Allah : Elohim, Yahwe, El-shaddai dan Adonai; Tentang penyataan Allah dan dunia yang dikasihiNya. 10 Agustus 1985 tentang arti pelayanan. 2 April 1986 tentang “Komunikasi Kristen Antar Pribadi” oleh Pdt. Yunus Atmarumeksa. Pembinaan untuk jemaat, selain Pemahaman Alkitab (PA) secara rutin setiap hari Jumat, diterbitkan surat pembinaan setiap bulannya dalam warta jemaat. Temanya tentang siapa Allah dalam Tuhan Yesus dan unsur-unsur liturgi.

Pembinaan guru-guru Sekolah Minggu, Komisi Remaja, Komisi Pemuda, Komisi Wanita juga dilaksanakan secara lokal, gabungan beberapa jemaat GKI maupun oleh klasis.

  1. Kolportase dan Perpustakaan

Kolportase gereja menyediakan buku-buku bacaan kristen untuk dibeli oleh jemaat dalam jumlah dan ragam yang terbatas. Penjualan buku-buku tersebut kian menurun namun ada rencana untuk ditingkatkan di kemudian hari, sehingga saat ini  hanya menyediakan buku renungan harian secara terbatas.

Perpustakaan GKI Delima dibuka sejak 12 Januari 1986 setiap hari minggu setelah kebaktian umum dari pukul 9.00WIB sampai dengan pukul 10.30 WIB. Ketersediaan Buku terdiri dari buku-buku untuk konsumsi anak-anak maupun dewasa. Perpustakaan ini ditangani oleh Ibu Kristina Widjaja. Ketentuan-ketentuan perpustakaan pada saat itu, antara lain seorang anggota hanya dapat meminjam 1 buku setiap kali meminjam buku, masa peminjaman buku selama 1 minggu dan iuran anggota Rp1.000/tahun.

 

    II.            Kegiatan dan Peristiwa dalam Bidang Kebersamaan

Bidang kebersamaan menangani urusan-urusan internal gereja, termasuk didalamnya pelayanan kebaktian umum  dan hari raya gerejawi.

Perjamuan Kudus

Sesuai dengan agenda sinode 1984, Sakramen Perjamuan Kudus dilayankan 4 kali dalam setahun. Minggu pertama Januari, Jumat Agung, minggu pertama Juli dan minggu pertama Oktober. 

 

 III.            Kegiatan dan Peristiwa dalam Bidang Oikoumene Masyarakat

Tahun 1984-1986, kegiatan di bidang Oikoumene Masyarakat (Oikmas) belum banyak, beberapa diantaranya adalah membantu korban banjir dan masyarakat yang hidup dalam kekurangan dengan menyumbang pakaian-pakaian bekas melalui gereja setempat. Untuk pelayanan diakonia masih belum rutin dan bersifat insidental. Kegiatan lainnya mengikuti penataran P4 yang diselenggarakan oleh BP7 DKI dan Bamag DKI di GKI Samanhudi, 12 Maret 1986 seminar sehari PGI Wilayah, tentang Pelayanan Masyarakat Kota dan Industri (PMKI) di GKI Delima.

 

 IV.            Kegiatan dan Peristiwa dalam Bidang Sarana Prasarana

Bidang sarana dan prasarana (Sarpras) memiliki peranan penting didalam tata kelola aset gereja. Semua barang milik gereja berada di dalam daftar inventaris Bidang Sarpras. Daftar inventaris GKI Delima tahun 1984-1986, diantaranya : 50 bangku panjang (sumbangan dari jemaat), 76 kursi lipat, 7 kipas angin, 73 buku Nyanyian Mazmur, 136 buku Nyanyian Suplemen II, 1 organ merek Hammond, 1 ampli TOA, 3 Microphone, 3 Speaker, 54 Alkitab.

 

    V.            Komisi-Komisi

Tahun pertama GKI Delima berdiri hanya ada 2 komisi saja, yaitu Komisi Wanita dan Komisi Remaja. Tidak lama setelah itu dibentuklah Komisi Anak, Komisi Pemuda dan Komisi Pelawatan.

  1. Komisi Wanita

Sebelum terbentuk sebagai komisi, banyak anggotanya telah proaktif didalam membidani lahirnya GKI Delima dan bekerja keras untuk mendukung pengadaan dan pembangunan gedung gereja. Komisi Wanita adalah tulang punggung gereja dan memiliki peranan penting terhadap eksistensi GKI Delima di awal masa berdiri. 

 

             (Foto 2.6) – Pengurus Komisi Wanita dalam kegiatannya 

Kegiatan rutin:

-       Kebaktian setiap hari Rabu pukul 16.00 WIB, yang diisi dengan renungan serta PA dari KW sinode.

-          Setiap Jumat akhir bulan pukul 10.00 WIB, diadakan kebaktian bagi mereka yang lanjut usia.

-          Kegiatan ketrampilan wanita diadakan setiap 1 bulan sekali.

Kegiatan non-rutin diantaranya:

-          Kebaktian doa di Panti Werda HANA, 18 Januari 1985.

-          Penyuluhan tentang “Bagaimana Cara Bersaksi di Hadapan Jemaat” oleh Ev. Lois Lokananta, 31 Juli 1985.

-          Mengikuti perlombaan “Malam Pujian” yang diselenggarakan oleh Komisi Wanita Klasis, 30 Agustus 1985.

-          Memperingati Hari Kartini dengan mengadakan perlombaan merangkai bunga dengan juara I Ibu Theodorus, 23 April 1986.

 

  1. Komisi Anak

 

  

 

(Foto 2.7) – Komisi Anak era 1980-an

 

Sejak 7 Juli 1984 hingga 6 Januari 1985, Sekolah Minggu diselenggarakan di garasi rumah Pdt. Junus Atmarumeksa. Karena jumlah anak-anak yang terus bertambah, ruang praktek drg. Ibu Junus dipakai juga. Jumlah kehadiran anak-anak antara 35 sampai dengan 40 anak setiap minggu. Terdapat 3 guru sekolah minggu yakni : Kathy Meliana, Raina Nainggolan dan Estu Kantiningtyas dengan koordinatornya Tt. Suwandhio Gani.

Pada 6 Januari 1985, tempat kursus Bahasa Inggris “Medan English Course” Jl. Delima Raya no.25 disewa setiap minggu untuk dijadikan tempat sekolah minggu yang terbagi menjadi 4 kelas. Guru-guru menjadi 6 orang dan jumlah anak-anak yang hadir menjadi kurang-lebih 95 anak. Buku pedoman guru dipakai buku terbitan Gandum Mas, Lawang, Jatim.

 

Kegiatan rutin,

-          Kebaktian setiap hari Minggu pukul 8.00 WIB.

-          Persiapan guru-guru setiap hari rabu pukul 18.00 WIB.

Kegiatan non-rutin,

-          Acara panggung boneka serta gerak dan lagu, 15 Desember 1985.

-          Pelajaran melukis diasuh oleh Bapak Sudarmo hari Senin pukul 14.00 WIB, 17 Februari 1986

-          Darmawisata ke Taman Bunga Cibubur, 29 Juni 1986.

 

  1. Komisi Remaja dan Komisi Pemuda

Awalnya hanya ada persekutuan remaja saja. Tahun pertama GKI Delima berdiri, dikumpulkan para remaja yang kebanyakan anak dariMajelis Jemaatdan aktivis gereja. Namun, rentang usia di Komisi Remaja ini cukup lebar, ada yang masih duduk di SMTP, ada yang di SMTA bahkan ada yang sudah di Sekolah Tinggi, menyebabkan adanya kecanggungan diantara mereka, sehingga bulan Mei 1986 Komisi Pemuda dibentuk dan diadakan kebaktian perdana Komisi Pemuda pukul 19.00 WIB pada hari sabtu, tanggal 24 Mei 1986.

Kegiatan rutin,

-          Kebaktian Remaja setiap hari Minggu pukul 19.00 WIB.

-          Kebaktian Pemuda setiap hari Sabtu pukul 19.00 WIB

-          Olah raga Tenis Meja dan Catur setiap hari Senin dan Kamis.

Kegiatan non-rutin,

-          Darmawisata ke Cibodas.

-          Retret ke Cimacan dengan tema “Berakar dalam Kristus”, 24 – 27 Juni 1985.

-          Pemutaran dan Bedah Film Rohani.

 

 

(Foto 2.8) – Komisi Remaja era 1980-an

 

  1. Komisi Pelawatan

Pada 20 April 1986 Komisi Pelawatan dibentuk. Sebelumnya diadakan pembinaan dan percakapan tentang panggilan Tuhan kepada para anggota komisi. Komisi Pelawatan terdiri dari pelawat-pelawat yang menyediakan waktu dan tenaga untuk mendukung pendeta dan majelis jemaat didalam penggembalaan jemaat. Kebaktian Doa Wilayah juga berada dalam wewenang Komisi Pelawatan.

 

Kegiatan rutin,

-      Melawat setiap anggota jemaat secara periodik setiap bulan.

-      Memperhatikan setiap anggota jemaat dan simpatisan yang sakit, berduka-cita, dalam kesulitan/ kesusahan, atestasi masuk, pindah alamat, melahirkan (melalui Komisi Wanita memberikan cindera mata) maupun para simpatisan.

-       Menghadiri dan Mengatur Kebaktian Doa Wilayah setiap bulan.

-       Mendampingi pendeta melawat jemaat.

 

 VI.            Panitia-Panitia

Untuk menjalankan tugas kemajelisan yang lebih luas dan mendalam, maka dibentuklah panitia natal, panitia pembangunan gedung gereja dan panitia pekan keluarga.

Perayaan Natal untuk umum pada tahun 1984 dan tahun 1985 dirayakan 2 hari, yakni tanggal 24 Desember dan 25 Desember. Pada tanggal 24 Desember menekankan pada kebaktian candle light dan puji-pujian di malam Natal. Pada tanggal 25 Desember kebaktian natal untuk umum. Selesai kebaktian dibagikan kalender meja dan buletin natal kepada jemaat yang hadir. Panitia Natal 1984 diketuai oleh Bapak Witanto Gunawan, wakil ketua Bapak Ibrahim Yahya. Sedangkan Panitia Natal 1985 diketuai oleh Bapak Lukas Suharmadjie, wakil ketua Bapak Yen Christian.

Panitia Pembangunan Gedung Gereja dibentuk pada bulan November 1984, diketuai oleh Bapak Gerard Setiadharma. Kemudian susunan kepanitian tersebut mengalami perubahan, Ketua digantikan oleh Bapak Hardjoko Susanto. Melalui segala pergumulan dan tantangan akhirnya panitia dimampukan untuk dapat menyelesaikan pembangunan gedung gereja dengan baik pada bulan Oktober 1987.

Panitia Pekan Keluarga dibentuk untuk menyelenggarakan pekan keluarga yang jatuh pada bulan Oktober. Pekan keluarga tahun 1984 tanggal 28 Oktober – 3 November, dengan tema “Kristus Kepala Keluarga”. Pekan Keluarga 1985 tanggal 13 Oktober – 19 Oktober 1985, dengan tema “Rumah Tangga Bahagia Dalam Kristus”. Pekan Keluarga diisi dengan pemberitaan Firman Tuhan, ceramah dan penyuluhan psikologi, serta puji-pujian. Semua acara Pekan Keluarga berlangsung pukul 19.00 WIB di gereja. Selain itu, dalam masa Pekan Keluarga ini digalakkan kebaktian keluarga jemaat di rumah masing-masing dengan liturgi khusus.

Paduan Suara

Kebaktian Umum I pukul 8.00 WIB diisi oleh Paduan Suara “Gloria” milik Komisi Wanita yang terdiri dari wanita saja dan Vokal Grup “Nazaret” milik Komisi Pemuda. Kebaktian Umum II tidak mendapat layanan Paduan Suara, karena itu, pada bulan Mei 1986 dibentuklah Paduan Suara “Gabungan” yang dikoordinasi oleh Tt. Benny S. Dantjie untuk melayani Kebaktian Umum II juga. 

 

 

(Foto 2.9) - Paduan Suara Gloria

Pentakosta

Pentakosta diperingati dengan Doa 10 Hari berturut-turut 16 Mei – 25 Mei 1985. Acaranya adalah pemberitaan Firman Tuhan oleh Pdt. Tony Arwadi, Tt. Budi Pudjianto, Tt. Yunus Pangestu, Tt. Suwandhio Gani, Tt. Benny S. Dantjie. Tema pemberitaan antara lain: “Ia Menginsafkan Dunia Akan Dosa” ; “Roh Kudus dan Kitab Suci” ; “Kelahiran Kembali”.Pokok doanya antara lain: pembangunan rumah ibadah, pelayanan majelis dan komisi, bangsa dan negara, orang-orang yang sedang sakit,  anak-anak sekolah dan pencari kerja.

BAB III

Gereja yang Menjadi Berkat Bagi Sesama

Sub Tema Tahun Pelayanan 2016 - 2017

Jadwal Kebaktian

Sekolah Minggu :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Remaja :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Pemuda :
Minggu Pukul 11.00 WIB

Kebaktian Lansia :
Jumat Pukul 10.00 WIB

Kebaktian Umum : 
1. Minggu Pukul 06.30 WIB
2. Minggu Pukul 09.00 WIB
3. Minggu Pukul 17.00 WIB

 

Facebook GKI Delima

 

Download Warta Jemaat

 

Download Liturgi Kebaktian