Majelis Jemaat

Rayon

Komisi

Kelompok Kerja

Sebagai pengikut Kristus tugas dan tanggungjawab untuk mewartakan Injil tidaklah mudah. Respon orang atas pewartaan maupun pelayanan kita tidak selalu diterima dengan baik atau diberi apresiasi. Sebaliknya, bisa saja ada penolakan yang dapat membuat kita menjadi kecewa, sakit hati, frustasi bahkan bisa kehilangan motivasi untuk terus melayani Tuhan. Bentuk penolakan bisa beragam, mulai dari tidak didukung/dicuekin, diremehkan/disepelekan, di-nyinyirin (dicari-cari kekurangan atau kesalahan), dihalang-halangi, sampai ditentang & ditolak dengan disertai ancaman kekerasan. Namun sebagai orang yang dipilih Allah, ditebus Kristus dan diperlengkapi dengan Roh Kudus, kita tidak boleh menyerah, sebaliknya kita harus terus menyatakan kebenaran Allah di tengah dunia.

Dalam perikop Yeremia 20:7-18 kita dapat melihat catatan kehidupan pelayan Tuhan yang setia untuk menyatakan kebenaran Allah. Hidupnya sama sekali tak mudah, penuh pergumulan dan kejutan, tetapi di tengah kekelamannya Tuhan berkarya. Yeremia mengakui bahwa ia tak kuasa menolak panggilan untuk menyuarakan kebenaran firman Tuhan yang begitu kuat dan tak terbantahkan. Sehingga ketika ia mencoba mendiamkan firman itu seolah-olah hatinya mau terbakar (ay.9).

Sepintas Yeremia nampak seperti orang yang tidak menyenangkan karena selalu cemberut, selalu mengeluh dan selalu memberitakan penghukuman Allah kepada bangsa Yehuda. Itulah yang membawa Yeremia berbenturan dengan banyak orang mulai dari orang-orang terdekat (ay.10) hingga para tokoh nasional yang menentang dia. Ia bahkan dihukum pasung oleh imam Pasyur yang menjabat kepala Rumah Tuhan (20:1-2). Juga ketika membaca kata-kata Yeremia kepada Allah dalam perikop tersebut, hampir selalu terdengar sungut-sungut atau keluhan di dalam perkataannya. Puncak keluhan Yeremia terjadi ketika ia mengharapkan ibunya melakukan aborsi saat ia masih dalam kandungan dan menyesali mengapa ia keluar dari kandungan ibunya hidup-hidup. Itulah titik nadir yang dirasakan oleh Yeremia (ay.17-18). 

Meskipun Yeremia berkeluh kesah dan meratap, tetapi kekelaman hidup seorang pelayan Tuhan tak pernah kekal. Selalu ada secercah cahaya di ujung terowongan. Di tengah pergumulan hidupnya yang berat, Yeremia melihat bahwa Tuhan sebenarnya tetap ada dan menyertainya. Ditengah penolakan bangsa Yehuda, Tuhan tetap berkarya dan menunjukkan diri-Nya (ay. 11-13). Perikop ini membukakan tabir kehidupan batin seorang pelayan Tuhan sejati yang menunjukkan gambaran seperti apa rasanya menjadi pelayan Tuhan yang setia. Yeremia menunjukkan risiko menjadi orang yang hidup dekat dengan Tuhan dan setia melakukan tugasnya. Mari kita bercermin pada kehidupan Yeremia: bagaimana karya Kristus nyata di dalam hidup kita segamblang karya itu nyata dalam hidup Yeremia?

Anugerah keselamatan di dalam Kristus memang kita dapatkan dengan cuma-cuma alias tidak perlu bayar, karena kita juga tidak akan mampu membelinya dengan harta kita, ataupun kepandaian kita. Namun untuk menjadi pengikut Kristus dan melayani Tuhan ada harga yang harus dibayar. Kita diminta untuk tetap teguh menyatakan kebenaran Kristus di tengah dunia ini. Kuatkan dan teguhkan hatimu ketika harus mengemban suatu tugas pelayanan apalagi menjadi pemimpin. Bersiaplah dan waspadalah dalam menghadapi penolakan bahkan ancaman dalam menyatakan kasih Kristus dan kebenaran firman Tuhan! Tetaplah percaya dan setia! Ingatlah ada Roh Kudus yang akan memampukan mewujudkannya.

(Pdt. Adi Cahyono)

Gereja yang Menjadi Berkat Bagi Sesama

Sub Tema Tahun Pelayanan 2016 - 2017

Jadwal Kebaktian

Sekolah Minggu :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Remaja :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Pemuda :
Minggu Pukul 11.00 WIB

Kebaktian Lansia :
Jumat Pukul 10.00 WIB

Kebaktian Umum : 
1. Minggu Pukul 06.30 WIB
2. Minggu Pukul 09.00 WIB
3. Minggu Pukul 17.00 WIB

 

Facebook GKI Delima

 

Download Warta Jemaat

 

Download Liturgi Kebaktian