Situasi sekitar yang permisif, ditambah kondisi keuangan yang kepepet bisa menjadi faktor kuat bagi terbentuknya mentalitas suka melanggar! Mentalitas itu bisa berwujud perilaku apa pun. Termasuk tidak punya rasa takut dan hormat kepada Tuhan. Selanjutnya, jika mentalitas itu menjadi perilaku sehari-hari, itu berarti pelanggaran sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Dalam keadaan demikian, seorang pelanggar tidak lagi bisa membedakan tangan kiri dan tangan kanan. Semua dianggap sama, semua cara boleh dilakukan demi mencapai kesenangan itu.







