Majelis Jemaat

Rayon

Komisi

Kelompok Kerja

Tahun 2019 ini kita menghadapi Pemilu. Secara hakiki, Pemilu adalah momen dan kesempatan kita membuat pilihan. Setiap Pemilu dapat merupakan momen untuk memperbaiki diri dan mengembangkan bangsa kita agar lebih siap menjadi wadah anugerah-anugerah Tuhan. Sebaliknya, dapat juga menjadi momen untuk menyeret kita kedalam kemacetan dan mengembalikan masa lalu yang tidak lagi relevan di dunia modern. Pemilu jelas terkait politik. Karenanya, muncul pertanyaan lama, apakah peran kita? Apakah kita boleh ikut berpolitik? Menurut Wikipedia, istilah Politik yang datang dari bahasa Yunani Politikos berarti proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara iain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.

Kecenderungan orang-orang Kristen Protestan adalah memfokuskan diri pada hidup iman, hidup keluarga, hidup bisnis, namun tidak pada politik. Bahkan, menganggap politik itu kotor, karena itu sebaiknya kita tidak ikut campur atau melibatkan diri ke dalamnya. Kalaupun terpaksa, ya kita lakukan sekedarnya. Mungkin ajaran Martin Luther di abad 16 mengenai dua kerajaan (Kerajaan Allah dan Kerajaan Dunia) mewarnai pola pandang seperti itu. Namun dalam AIkitab, kita tidak dapat mengabaikan fakta bahwa, orang-orang pilihan Tuhan, misalnya Yusuf terlibat sangat dalam di dunia politik Mesir di zamannya. Juga Daniel. Bahkan Ezra, Nehemia, Elia, dan sebagainya. Di zaman Perjanjian Baru pun, setiap orang terlibat dalam politik karena, begitu mereka menyatakan bahwa, Kristus adalah Putera Allah, sebagai konsekuensi, mereka jadi tidak mengakui kaisar sebagai putera Allah, padahal itulah doktrin masyarakat di zaman itu.

Selain itu iman Kristen mengajarkan bahwa Allah berdaulat dalam segala ranah hidup. Artinya, bila anak-anak Allah diutus menjadi garam dan terang dunia tidak memasuki salah satu ranah, maka mereka mencegah kuasa dan kedaulatan Allah nyata dan mewarnai ranah hidup itu. Bila seorang percaya tidak melibatkan diri dalam dunia politik, artinya ia tidak bertindak sebagai warga negara untuk mewarnai proses pengambilan keputusan dan juga, berarti mereka tidak mengakui bahwa, Allah dapat berkuasa disana. Juga mereka sebagai anak-anak-Nya mengabaikan tugas Allah untuk membuat injil hadir di segala penjuru dunia dan semua ranah hidup.

Secara praktis, orang-orang Kristen seperti itu menyerahkan diri pada orang-orang lain, kuasa-kuasa lain, dan roh-roh lain untuk menentukan jalan hidup seluruh masyarakat dan diri mereka. Jadi, ikut dalam proses berpolitik sebagai salah satu pemilih, pelaku, atau pemimpin dan anggota partai bukan lagi suatu hal yang perlu dipertanyakan boleh atau tidaknya. Hal itu merupakan tugas dan konsekuensi menjadi garam dunia dan terang dunia (kecuali, kita hanya mau jadi garam di dalam botol ruang nyaman kita).

Bagaimana kaitan antar tugas tersebut dalam proses Pemilu? Pemilu adalah proses memilih dan menentukan kepada siapa kita berikan wewenang untuk memimpin kita. Bila kita tidak ambil bagian atau menjauh dari proses tersebut, berarti kita membiarkan orang lain memilih buat kita apa yang akan kita alami di masa depan.

Mengapa orang lebih suka tidak ambil bagian di dalam arena politik? Salah satu isu yang sering dikemukakan orang Kristen adalah: politik itu kotor. Penuh Korupsi, kolusi, hoaks, dan aib. Memang tidak salah bahwa, di dunia berkembang atau dunia kesatu, hal itu cukup nyata. Lihatlah, di USA sekalipun. Apalagi banyak orang Kristen yang sempat jadi pemimpin juga cenderung larut dalam pengejaran status, materi dan koneksi sehingga menjadi batu sontohan. Namun, apakah kita tidak usah menanam padi, karena bila menanam padi kita pasti akan menjejak di tanah berlumpur? Apakah kita tidak melahirkan bayi, karena proses melahirkan membuat darah tercurah dan daging tersobek?

Mungkinkah keengganan kita terlibat dalam politik adalah masalah hati dan nyali? Orang seperti Nehemia dengan status warga buangan dari Israel juga mestinya bisa tidak perduli tentang

politik dan nasib bangsanya. Demikian juga Mordechai. Khususnya Nehemia, kentara ia memiliki nyali, kepedulian, dan diri yang mau berlutut serta menyampaikan kepeduliannya pada Tuhan. Ia juga mampu menjalin relasi dengan rajanya yang notabene adalah penghancur Yerusalem. Bahkan Nehemia berani ambil inisiatif untuk membawa kebutuhan bangsanya pada sang raja, berkomunikasi, bahkan mengusulkan solusi. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan dukungan logistic dan legal dari sang raja untuk mensejahterakan bangsa dan tanah kelahirannya.

Dalam Pemilu bulan April tahun ini, peran kita juga dinantikan sebagai orang yang mengamati, memiliki kepedulian, berkomunikasi, menawarkan solusi, dan mengeksekusi siapa yang baik seperti Nehemia. Namun, seperti Nehemia, kita juga perlu mulai dengan berdoa dan doa itu kita akui dosa-dosa bangsa kita serta bagian kita di dalam dosa itu. Kita harus menggunakan kesempatan memilih yang Tuhan sudah berikan pada tiap diri kita yang merupakan warga negara ini. Pemilu 2019 ini sendiri jelas akan memiliki dampak yang luas. Bahkan, mungkin jadi cabang jalan yang sulit hadir kembali. Bila kita memilih orang-orang yang tepat sebagai pemimpin kita, banyak hal akan terjadi.

Infrastruktur yang dibutuhkan seperti sekarang sedang mulai dibangun, kualitas pendidikan akan diubah dan dikembangkan lebih serius. Korupsi dan kolusi akan semakin dikendalikan walaupun dengan susah payah. Peran Internasional akan nyata, apalagi setelah menjadi anggota dewan keamanan PBB. Bahkan, mungkin para pemimpin yang akan datang dapat mendengarkan kerinduan bangsa untuk bukan hanya sejahtera secara ekonomi dan social serta budaya, namun Juga secara kearifan spiritual. Sebaliknya, bila kita tidak memilih pemimpin yang peduli pada bangsa ini dan masa depannya karena, mereka penuh dengan ketidakjujuran dan sangat kolusif, maka akan semakin merebak korupsi, anomali proses politik dan ekonomi. Akibatnya, Jangan terkejut bila bangsa ini hanya jadi bangsa yang terpinggirkan ketika Malaysia, Singapura, Thailand, dan sebagainya semakin sejahtera dan bijak. Kita akan Jadi bangsa yang diperbodoh para pemimpin kita dan terjadi konflik horizontal yang berkepanjangan akibat kebodohan yang dibina.

Jadi sebagal anak-anak Tuhan, walaupun kita kecil dalam jumlah, namun bagaikan bintang-bintang di langit kita dapat menjadi Inspirasi, menerangi, serta menjadi petunjuk arah bila kita bersinar di tempat yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.

*) Disarikan dari Materi Pengajaran Pemilu karya Pdt. Em. Robby Igusti Chandra

Gereja yang Menjadi Berkat Bagi Sesama

Sub Tema Tahun Pelayanan 2016 - 2017

Jadwal Kebaktian

Sekolah Minggu :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Remaja :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Pemuda :
Minggu Pukul 11.00 WIB

Kebaktian Lansia :
Jumat Pukul 10.00 WIB

Kebaktian Umum : 
1. Minggu Pukul 06.30 WIB
2. Minggu Pukul 09.00 WIB
3. Minggu Pukul 17.00 WIB

 

Facebook GKI Delima

 

Download Warta Jemaat

 

Download Liturgi Kebaktian