Menjadi keluarga yang visioner merupakan tantangan keluarga yang hidup di era saat ini. Percepatan dunia harus dihadapi dengan kritis. Sikap kritis berbeda dengan sikap permisif, di mana semua hal yang dirasa menyenangkan dijalani tanpa berpikir konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sikap kritis juga bukan sikap antipati. Sikap antipati berkebalikan dengan permisif. Dalam sikap antipasti, semua hal yang ada di sekitar kehidupan dinilai buruk, jahat dan harus ditolak. Penolakan terhadap semua hal [terutama hal-hal yang baru] menjadikan kehidupan tidak bergerak. Sikap kritis bukan permisif dan bukan pula antipati. Dalam sikap kritis ada kesediaan untuk memilah dan memilih.
Saat ini ada banyak pilihan yang ditawarkan pada keluarga. Dunia yang kita huni ibarat mega mall atau pasar yang menawarkan berbagai hal. Mari kita bayangkan bila kita masuk sebuah mega mall atau ke pasar tanpa dengan tujuan yang jelas dari rumah. Di sini kita akan menjadi orang yang gumunan [terheran-heran], kepenginan [menginginkan semua hal] dan tak bisa Mengen-dalikan diri untuk memiliki hal-hal yang ditawarkan di depan mata. Karena itu banyak keluarga, pribadi menjadi hancur manakala tidak bijak menggunakan credit card. Tanpa tujuan yang jelas semua ingin dibeli, semua ingin dimiliki, solusinya adalah berhutang dengan credit card yang ada dalam dompet. Mari kita bayangkan pula saat datang ke mega mall atau ke pasar dengan tujuan yang jelas. Dengan demikian, amat penting. Tujuan melahirkan sikap pengendalian diri. Selain itu pencapaian sasaran diupayakan sehingga kegembiraan bersama dialami.
Dalam Amsal, visi disebut dengan wahyu. Amsal bertutur tentang pentingnya wahyu dalam hidup bersama. Wahyu dapat dipahami sebagai anugerah dari Allah yang menjadikan seseorang atau kelompok mampu mengerti kejadian di masa yang akan datang. Pemahaman ini senada dengan visi. Visi merupakan arah yang menjadi panduan untuk dicapai.
Visi keluarga adalah sebuah ajakan untuk masa depan yang realistis, dapat dipercaya, dan menarik bagi keluarga. Visi adalah pernyataan tujuan ke mana sebuah keluarga akan dibawa, sebuah masa depan yang lebih baik, lebih diinginkan dibandingkan dengan keadaan saat ini. Dengan demikian, sesungguhnya visi memiliki kaitan yang erat dengan masa depan keluarga yang berpengharapan. Secara psikologis, visi juga merupakan ekspresi dari kekuatan usaha sebuah keluarga dalam mewujudkan apa yang menjadi tujuan. Jadi dalam visi terkandung harapan.
Keluarga yang memiliki visi ke depan akan memiliki kekuatan dalam mencapai harapan, sebab dalam visi terkandung komitmen dan motivasi yang tinggi pada pencapaian tujuan. Visi yang benar dan jelas akan menumbuhkan kesadaran setiap anggota keluarga melakukan peran dan fungsinya. Melalui peran yang dilakukan, setiap anggota keluarga menunjukkan tanggungjawab terhadap kehidupan keluarga. Maka bila kepada kita ditanyakan,”Apakah keluarga harus punya visi atau tujuan?” Kita pasti mengatakan “ya,” sebab visi keluarga itu memang penting.
(MS diedit dari Bahan Bulan Keluarga LPPS)








