Majelis Jemaat

Rayon

Komisi

Kelompok Kerja

“... anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!”
(Mazmur 128:3)

Pohon zaitun merupakan salah satu pohon yang berharga bagi orang Yahudi. Pohonnya kokoh dan berbuah lebat. Bila tidak ada gangguan yang berarti, usia pohon zaitun bisa mencapai beberapa abad. Kegunaannya sangat banyak, antara lain: Cabang-cabangnya digunakan untuk membangun pondok-pondok pada hari raya bulan ketujuh; Kayunya dapat dipakai untuk membuat perkakas rumah tangga: Buahnya dapat dimakan; Minyaknya multi manfaat seperti: dipakai dalam peribadatan bersamaan dengan persembahan korban, untuk membuat roti, sebagai bahan dasar salep, untuk merias rambut, untuk bahan bakar lampu minyak, juga berfungsi sebagai obat.

Jika pohon zaitun hampir mati atau ditebang, maka tunas baru akan tumbuh. Jumlahnya bisa sampai lima batang pohon baru yang bermunculan di seputar pohon induk. Penggambaran "anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu" (Mazmur 128:3) melambangkan anak-anak dari orang yang takut akan Tuhan kelak akan tumbuh kokoh dan kuat serta memiliki kedekatan dengan orang tua. Kelak saat orang tua menjadi renta, anak-anaknyapun dapat ganti memberi perlindungan kepada orang tuanya.(bdk Zakharia 4:1-14). Dengan demikian peran dan tanggungjawab anak dalam keluarga adalah sebagai bagian dari kebahagiaan keluarga (kecantikan, kekuatan, berkat ilahi dan kemakmuran) untuk menghadirkan perdamaian dan ketentraman bagi keluarganya khususnya orang tuanya.

Semua berkat di atas akan tercurah di dalam keluarga di mana kepala keluarganya hidup dengan takut akan Tuhan. "Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN" (ayat 4), demikian tulis pemazmur. Dalam budaya patriarkat, peranan seorang laki-laki sangat penting di dalam keluarga, di masyarakat, dan juga di bidang keagamaan. Laki-laki menjadi teladan dalam segala aspek kehidupan, sehingga ia perlu menerapkan sikap takut akan Tuhan.

Anak adalah bagian dari keluarga. Perilaku anak dalam hidup sesehari sebagai anak, ikut menjadi salah satu unsur kebahagiaan di dalam keluarga. Sikap-sikap seperti menghormati orangtua, menghargai aturan keluarga, sikap terbuka dan komunikasi yang baik dengan orang tua, peduli terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi orang tua, toleransi terhadap perbedaan pendapat, menjauhi pergaulan yang buruk, merupakan penjabaran dari sikap hidup yang takut akan Tuhan.

Kelak anak-anak juga akan menjadi orang tua. Menanamkan sikap takut akan Tuhan sejak awal akan menolong anak-anak untuk dapat menciptakan sebuah keluarga yang menjadi surga bagi setiap anggotanya, baik saat ini maupun kelak saat ia berkeluarga. Hal ini tentu tidak sulit dilakukan bagi anak-anak yang tinggal dalam keluarga yang harmonis dan memang hidup di dalam takut akan Tuhan. Mari kita jadikan keluarga sebagai sumber kebahagiaan kita, karena keluarga adalah anugerah Tuhan.

Pnt. Adi Cahyono, M.Si (Teol.)

Gereja yang Menjadi Berkat Bagi Sesama

Sub Tema Tahun Pelayanan 2016 - 2017

Jadwal Kebaktian

Sekolah Minggu :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Remaja :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Pemuda :
Minggu Pukul 11.00 WIB

Kebaktian Lansia :
Jumat Pukul 10.00 WIB

Kebaktian Umum : 
1. Minggu Pukul 06.30 WIB
2. Minggu Pukul 09.00 WIB
3. Minggu Pukul 17.00 WIB

 

Facebook GKI Delima

 

Download Warta Jemaat

 

Download Liturgi Kebaktian