Ada yang mengatakan bahwa menjadi pengikut atau murid Kristus itu gampang banget, yang penting percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan juruselamat akan disebut sebut sebagai Anak Allah dan pasti beroleh hidup kekal (bdk Yoh 1:12, 3:16). Saking gampangnya maka mudah sekali orang Kristen untuk mengulang perbuatan dosanya alias hidup semaumaunya. Yang penting nanti mengaku dosa dan tetap percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan juru selamat. So, simple kan??? Inilah yang seringkali membuat orang menilai keselamatan orang Kristen itu murah dan mudah.
Yesus banyak memberikan pengajaran disertai dengan berbagai mujizat agar orang menjadi percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah dan Juruselamat dunia. Namun Yesus tidak ingin orang salah mengerti dengan apa yang sudah Dia kerjakan dan ajarkan. Berdasarkan Injil Markus 8:31-38, Yesus menyampaikan gambaran tentang perjalanan yang harus dilalui Mesias demi untuk menggenapi janji Allah. Yesus akan menanggung banyak penderitaan, ditolak, dan dibunuh, lalu akan bangkit. Itulah harga yang harus dibayar Yesus demi keselamatan manusia, yaitu hidup dan nyawa-Nya.
Yesus juga menegaskan kepada Petrus dan murid-muridNya yang lain tentang hidup sebagai pengikut-Nya. Yesus berkata bahwa menjadi murid Tuhan harus menyangkal diri, memikul salib, dan terus mengikuti Dia (ay. 34). Bahkan mereka bisa saja sampai kehilangan nyawa karena mengikuti Yesus, namun Yesus meyakinkan bahwa mereka akan memiliki keselamatan kekal (ay.35). Untuk itu, mereka butuh keberanian untuk menyangkal diri dan memikul salib serta siap kehilangan nyawa untuk menjadi saksi Kristus sampai dengan akhir hayat. Inilah harga yang harus dibayar sebagai pengikut Kristus!
Bagi kita kini, salib bukanlah pencobaan, bukan juga kesulitan hidup yang harus kita derita karena kesalahan kita. Salib bukan berupa cacat fisik, intervensi orang lain yang suka mengatur dan ikut campur urusan hidup kita, atau keluarga yang sering merepotkan diri kita. Pikul salib terjadi ketika kita harus kehilangan reputasi, pangkat, kehormatan, atau harta kekayaan dalam mempertahankan kemuridan kita. Ketika kita harus menanggung malu, menahan amarah dan tidak boleh menyimpan dendam atau kebencian demi karya Allah terus dinyatakan di dunia ini. Dengan demikian menyangkal diri dan memikul salib menunjukkan panggilan untuk mengarahkan hidup dari yang berpusat pada diri sendiri (egosentris) kepada kehendak dan rencana Allah (Teosentris). Bahkan, jikalau harus mati sekalipun, sebagaimana digambarkan dengan perjalanan memikul salib ke tempat pemakuan, itu adalah syarat yang harus ditempuh. Perlu diingat juga bahwa sangkal diri, pikul salib, dan ikut Tuhan bukan tindakan yang dilakukan sekali saja. Seperti sekolah seumur hidup yang harus dijalani terus menerus. Tujuan akhirnya adalah masuk dalam hubungan pribadi dengan Dia secara utuh dalam keabadian.
Ada orang yang salibnya adalah tekanan sosial yang menghambatnya menjadi pengikut Yesus atau berbagai aniaya yang diterima karena mengikuti Yesus. Bisa juga berupa kemiskinan karena dampak sistem politik yang menindas atau diskriminatif. Ada juga salib yang harus dipikul ketika mengemban tugas kemanusiaan tapi justru disalahkan bahkan dipidanakan. Kejahatan orang lain memang bisa menjadi beban penderitaan dalam mengikuti teladan Yesus, tetapi bukan berarti salib harus ditolak. Tuhan menghendaki kita pikul salib agar orang-orang yang berbuat atau berperilaku jahat dapat tunduk dibawah salib Kristus dan beroleh keselamatan dari-Nya. Apa salibmu saat ini?
Mari jadikan salib kita sebagai bukti iman dan komitmen kita untuk menyatakan kasih-Nya bagi dunia. Pikulah salib dengan segenap hati sambil terus mengingat bahwa di ujung kehidupan kita telah tersedia mahkota kebenaran bagi setiap mereka yang percaya dan setia (bdk 2 Tim 4:8). Siap bayar harga untuk mengikut Yesus?
Pdt. Adi Cahyono







