“Memento Mori” (ingat bahwa kita pasti akan mati) filosofi latin abad pertengahan mengenai kematian bahwa hidup di dunia ini hanyalah bersifat sementara, pada akhirnya toh kita pasti mati juga. Kematian menempatkan manusia pada kefanaan dan ketidakberdayaan. Apalagi jika kematian itu terjadi tiba-tiba atau mendadak. Hal kematian menjadi bagian yang menghadirkan kepedihan, kesedihan dan keterlukaan yang mendalam.
Kondisi suasana kedukaan ini begitu mendalam. Kematian Tabitha (Dorkas) menghadirkan suasana kedukaan yang penuh kesedihan mendalam bagi keluarga dan teman-teman bahkan orang banyak yang pernah merasakan pelayanan dari Tabitha. Kebaikan Tabitha meninggalkan rasa kehilangan yang mendalam hingga banyak orang meminta Petrus untuk datang.
Ketika Petrus ada di Lida, mereka meminta dua orang murid untuk datang menjumpai Petrus. Dalam kedukaan yang begitu mendalam Petrus hadir dalam kesedihan tersebut menjadi Sahabat dikala situasi kurang bersahabat. Kehadiran Petrus membuat murid-murid dan semua orang yang hadir dalam suasana kematian Tabitha merasa tidak sendiri. Merasa ada jamahan kasih Tuhan Yesus Kristus. Kasih yang merangkul dan memeluk umat dalam kepedihan dan kesedihan.
Kehadiran dalam kedukaan menjadi pelayanan yang sangat didambakan dan dibutuhkan. Karena pada saat itu keluarga yang sedang berduka menjadi bingung, tidak tahu melakukan apa, sedih. Pelayanan kedukaan menjadi bagian dari penggilan GKI melalui Yayasan TABITHA.
Tabitha menjadi sahabat yang menolong dan memfasilitasi saat-saat kedukaan. Sekarang Yayasan Tabitha melebarkan sayap dangan mendirikan Rumah Duka dan Krematorium UKRIDA. Kiranya pelayanan saat duka ini semakin dipakai Tuhan Yesus untuk menjadi sahabat dikala duka. Begitu juga kita, untuk bisa menjadi sahabat dikala duka. Jb.
Pdt. Ima. F. Simamora







