Bacaan I : Yesaya 9 : 1-4
Maz. Tanggapan : Mazmur 27 : 1, 4-9
Bacaan II : 1 Korintus 1 : 10-18
Bacaan Injil : Matius 4 : 12-23
Minggu III sesudah Epifani tetap berada dalam suasana pewahyuan Kristus kepada dunia. Bacaan Injil hari ini, Matius 4:12-23, menyoroti hal tersebut. Matius 4:12-23 menunjukkan bagaimana terang Allah sungguh hadir dalam dunia melalui pribadi Yesus yang memulai karya pelayanan-Nya. Namun, menariknya terang itu tidak muncul di pusat agama atau kekuasaan seperti Yerusalem, melainkan di Galilea, wilayah yang secara geografis dan sosial berada di pinggiran. Penegasan Matius ini sangat mendasar dan menegaskan bahwa terang Allah menyinari wilayah-wilayah yang dianggap tidak penting oleh dunia.
Yesus hadir sebagai penggenapan nubuat Yesaya. Yesaya menubuatkan bahwa bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat terang yang besar (Yesaya 9:1a). Terang itu bukan hanya hadir untuk dilihat, tetapi mengubah. Ini dapat dilihat pada bagaimana Yesus memanggil murid-muridNya dari tempat yang gelap. Panggilan ini bukan kepada para rohaniwan atau kaum elite, melainkan kepada para nelayan-orang biasa yang sedang bekerja. Maka, terang Kristus tidak hanya bersifat penying kapan ilahi, tetapi juga panggilan bagi manusia untuk terlibat dalam karya Allah.
Bacaan Pertama (Yesaya 9:1-4) memperkuat dasar pengharapan ini. Ia menubuatkan bahwa terang Allah akan datang bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan. Mazmur 27 melengkapi dengan respons pribadi pemazmur yang mengakui Tuhan sebagai terang dan keselamatan, yang memberi keberanian bahkan di tengah ancaman. Bacaan dari 1 Korintus 1:10-18 menunjukkan tantangan umat dalam merespons terang itu. Umat diajak memilih apakah akan membiarkan terang Kristus menyatukan mereka atau justru tercerai-berai karena agenda pribadi dan pemujaan terhadap pemimpin manusia?
Bacaan Injil menjadi pusat pewahyuan, yang mempersaksikan bahwa terang itu telah datang dalam diri Yesus. Bacaan lainnya melengkapi berita tersebut. Yesaya menyuarakan janji, Mazmur mengekspresikan kepercayaan, dan Paulus mengingatkan tantangan gereja dalam mewujudkan terang itu. Maka, umat dipanggil tidak hanya untuk menerima terang secara pribadi, tetapi juga hidup sebagai komunitas yang menyinari dunia dalam kesatuan dan kesaksian.
(Disadur dari Buku Dian Penuntun Edisi 41)








