Harus diakui dan diterima bahwa gereja tidak terdiri dari orang-orang yang sudah sempurna, melainkan orangorang yang dibenarkan dan sedang terus menerus dikuduskan oleh Tuhan Yesus. Seumpama dalam dunia otomotif, gereja bukan showroom yang menampilkan mobil yang baru keluar dari pabrik yang masih mulus tanpa goresan atau kerusakan apapun. Namun gereja seperti bengkel after salesnya yang setiap saat siap menampung untuk perawatan (service) dan perbaikan (repair) supaya mobil yang masuk ke bengkel tersebut dengan segala kerusakannya bisa kembali berfungsi dengan sebagaimana mestinya.
Demikian pula kesalahan dan kejatuhan dalam dosa bisa juga terjadi pada setiap orang Kristen. Oleh sebab itu gereja sebagai ruang atau sarana demonstrasi kasih Allah harus mau dan bisa menerima semua jenis kerusakan yang ada atau dibawa ke dalam gereja untuk dirawat atau pun diperbaiki.
Namun gereja seringkali terjebak pada dua ekstrim: memaklumi saudara yang berbuat dosa (atas nama kasih dan pengampunan), atau sebaliknya bertindak menjaga "kesucian" jemaat dengan mengucilkan orang yang dianggap berdosa. Kedua ekstrim tersebut tidak mencerminkan kasih Kristus sebagai kepala gereja dan mesti kita tinggalkan. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk meminta ampun kepada Allah yang maha kasih itu, dan menyatakan kasih-Nya melalui doa dan tindakan rekonsiliatif yang dilandasi kuasa Allah yang merangkul dan memulihkan.
Tuhan Yesus dalam bacaan injil Matius 18:15-20 memberikan petunjuk bahwa teguran dan nasihat itu harus dilakukan secara bertahap. Pertama, hendaklah dilakukan dalam pembicaraan pribadi (empat mata) antara Anda dan dia (ay. 15). Jika tahap teguran dan nasihat itu tidak ditanggapi, perlu menghadirkan saksi bukan untuk menghakimi melainkan sebagai upaya guna menyadarkan orang tersebut (ay. 16). Jika teguran dengan saksi itu pun tetap tak ditanggapi, barulah pembuat kesalahan itu ditegur dalam pertemuan jemaat Tuhan (ay. 17a). Jika sampai sudah menerima teguran demikian pun ia tetap tak berespons, maka jemaat harus memandang dia sebagai seorang yang tidak mengenal Tuhan (ay. 17b). Semua tahapan itu dilakukan dalam semangat untuk memulihkan dan merengkuh kembali ke dalam persekutuan tubuh Kristus. Sebaliknya, semangat menjatuhkan orang lain atau menyingkirkan orang lain yang bersumber dari kebencian atau iri dengki harus dihindari dan dijauhi!
Gereja akan bertumbuh sehat dan berperan dengan sebagaimana mestinya ketika anak-anak Tuhan di dalamnya saling menghargai dan menerima satu sama lain dengan penuh kasih, terus berusaha menjaga kekudusan dan saling mendorong hidup dalam pertobatan serta saling mengampuni dengan tulus. Mari kita terus berupaya melakukannya dengan pertolongan-Nya. Soli Deo Gloria.
- Pdt. Adi Cahyono -







