Majelis Jemaat

Rayon

Komisi

Kelompok Kerja

Pernahkah saudara, salah paham dalam berkomunikasi? Mungkin sering kita alami. Misalnya kita salah menafsirkan katakata yang dikirim melalui WA seorang teman kita. Atau kita salah baca, sehingga kita salah mengartikannya. Salah paham bisa membuat kita tertawa setelah masalah kita luruskan, tetapi bisa juga menyebabkan pertengkaran hebat bahkan putusnya persahabatan. Kadang kalau dalam salah paham masing-masing merasa diri benar, tidak mau mendengar penjelasan pihak lain dan saling menyalahkan bisa saja kesalah pahaman itu berakhir dengan permusuhan.

Bagaimana membangun komunikasi yang baik? Hidup di era digital, komunikasi sangat canggih, tetapi tidak menjamin komunikasi selalu makin baik. Begitu juga keluarga masa kini telah terjebak dalam arus modernisasi dan kecanggihan teknologi. Masing-masing anggota keluarga tidur di ruang tidur yang dilengkapi komputer, alat-alat elektronik yang dapat memberikan banyak hiburan dan mempermudah komunikasi baik dengan keluarga maupun dunia luar. Tetapi hal ini bisa menjadikan keluarga menjadi “bisu”, terasing satu sama lain dan memiliki dunia masing-masing yang menjauhkan hati tiap anggota keluarga.

Lukas 2:41-52 berkisah tentang sebuah keluarga sederhana. Pada suatu hari ayah dan ibu kehilangan anak sulung mereka. Sang ayah mengira Sang Putera bersama ibu-Nya, sang ibu mengira Sang Putera bersama ayah-Nya. Kehilangan anak tentu membuat mereka cemas dan gelisah. Tetapi dalam situasi seperti itu, mereka tidak saling menyalahkan. Mereka berjalan bersama, mencari bersama dan mengatasi masalah bersama, sampai mereka menemukan Putera kesayangan mereka. Itulah keluarga Yusuf dan Maria. Sang Putera pun walau sedang asyik berdiskusi bersama para alim ulama, namun Dia mau pulang bersama orangtua-Nya dan hidup dalam asuhan mereka.

Komunikasi yang baik membuat masalah menjadi mudah diselesaikan. Komunikasi yang baik hanya bisa terjadi bila tiap anggota keluarga memiliki kasih Kristus dalam hati mereka. Kasih Kristus itulah yang membuat mereka tenang, sabar, mau mendengar, berkepala dingin, rendah hati, tidak saling menyalahkan dan tetap bersama-sama mengatasi masalah. Rasa sombong, mau menang sendiri, tidak mau mendengar orang lain membuat masalah makin besar. Kita harus kembali memeriksa apakah kasih Kristus tetap memenuhi hati kita. Itulah sumber kekuatan kita. Kasih Kristus harus ada di tiap hati tiap anggota keluarga agar ditengah era digital yang bisa membuat keluarga kesepian dan makin terasa jauh, ada kekuatan untuk mengusahakan kesatuan, saling mengerti, saling mengasihi dan dapat berkomunikasi dari hati ke hati. Kasih Kristus adalah sumber kekuatan keluarga Kristen dalam menghadapi tiap masalah.

(PS)

Gereja yang Menjadi Berkat Bagi Sesama

Sub Tema Tahun Pelayanan 2016 - 2017

Jadwal Kebaktian

Sekolah Minggu :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Remaja :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Pemuda :
Minggu Pukul 11.00 WIB

Kebaktian Lansia :
Jumat Pukul 10.00 WIB

Kebaktian Umum : 
1. Minggu Pukul 06.30 WIB
2. Minggu Pukul 09.00 WIB
3. Minggu Pukul 17.00 WIB

 

Facebook GKI Delima

 

Download Warta Jemaat

 

Download Liturgi Kebaktian