Tidak seorang pun tahu kapan pastinya Tuhan Yesus datang untuk ke dua kalinya di hari penghakiman (Parousia). Namun yang kita percayai/imani adalah bahwa Tuhan pasti datang. Kesiapan diri yang baik dan sikap setia dalam menyambut kedatangan Tuhan merupakan bukti dari iman akan kedatangan Kristus itu. Iman dan kesetiaan itu perlu diwujudkan dalam sikap hidup yang konkret. Itulah yang disebut dengan waspada dan berjaga-jaga.
Dalam Injil Matius 25:1-13, Yesus menggambarkannya melalui perumpamaan tentang para gadis yang menyambut kedatangan mempelai laki-laki. Penyambutan mempelai lakilaki merupakan rangkaian tradisi perkawinan orang-orang Yahudi pada masa itu. Mereka tahu bahwa sang mempelai laki-laki akan datang di malam hari, tetapi waktu kedatangannya tidak diketahui secara pasti. Mereka tahu bahwa ada kemungkinan mempelai laki-laki datang cepat, tetapi bisa juga datang lebih lambat. Pelita dan minyak yang dipakai untuk menggambarkan kesiapan para gadis adalah semacam obor yang setiap lebih kurang 15 menit perlu dituangi minyak zaitun agar tetap menyala. Sebagai orang yang sudah tahu akan situasi seperti itu, para gadis bijaksana pasti akan mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan (termasuk minyak tambahan) agar ketika sang mempelai datang, pelita mereka tetap menyala. Sebaliknya para gadis yang bodoh itu persiapannya hanya ala kadarnya dan bukan persiapan yang terbaik. Mereka disebut bodoh bukan karena mereka tidak memiliki pengetahuan atau pengalaman menanti kedatangan sang mempelai. Tetapi karena mereka sudah tahu, namun mereka tidak menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
Perumpamaan ini mengajarkan tentang apa yang terjadi saat Tuhan Yesus datang kembali menjemput muridmurid untuk dibawa masuk ke dalam kemuliaan-Nya. Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai mempelai laki-laki yang kedatangan-Nya tidak terduga bahkan bisa terjadi secara tiba-tiba. Ia hanya akan membawa gadis-gadis yakni umat-Nya yang siap sedia. Bagi yang tidak mempersiapkan diri tidak ada kesempatan untuk berbenah. Segera pintu ruang perjamuan ditutup dan tidak akan dibuka kembali. Sebagai orang Kristen kita dipanggil memiliki sikap hati dan tindakan iman kita seperti para gadis bijaksana yang menyambut kedatangan Tuhan dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan selalu waspada.
Dalam buku “Why Me, Lord?”, John Powel memakai perumpamaan itu untuk menggambarkan tentang kedatangan kematian dimana kita orang percaya dijemput dalam kekekalan. Datangnya tidak bisa diduga dengan pasti bahkan seringkali dengan tiba-tiba. Oleh sebab itu sebagai umat-Nya kita harus selalu waspada dan bersiap sedia. Caranya yaitu dengan berupaya hidup sesuai dengan firman-Nya, menaati perintah-Nya, dan setia menantikan dalam kewaspadaan penuh. Hati dan pikiran, tindakan serta perbuatan kita hendaknya senantiasas terarah pada hari kedatangan-Nya, sehingga kita siap kapan saja dijemput dan dibawa masuk kepada kekekalan. Tuhan kiranya terus memampukan kita. Soli Deo Gloria.
- Pdt. Adi Cahyono -







