Seorang gadis kecil memajang lukisannya di dinding jalan masuk menuju kelasnya. Banyak muridmurid melihat dan memberikan penilaian yang buruk dengan komentar-komentar yang negatif dan sangat pedas: “ lukisan buruk”, lukisan jelek lebih pantas ditong sampah. “ . Anak kecil itu menangis dan tidak masuk sekolah. Ada seorang guru yang datang berkunjung kerumahnya dan menanyakan mengapa tidak masuk sekolah?. Gadis kecil ini bercerita apa yang dialaminya. Guru ini membujuknya untuk tidak berhenti melukis dan memberikan catatan dilukisan itu: “ keindahan apa yang anda rasakan?”. Gadis kecil inipun melakukannya. Gadis kecil itupun dengan cemas dan takut akan respon orang-orang yang melihat lukisannya. Gadis kecil itu mendengar komentar dari orang-orang yang melihat lukisannya: bunga kecil dilukisannya bagus, hidung boneka beruangnya lucu, dll. Gadis kecilpun merasa tenang dan senang.
Saudara-saudari terkasih, seorang guru itu menyelamatkan hati, hidup gadis kecil itu. Guru ini bukan hanya sekedar menyuruh-nyuruh gadis kecil itu untuk datang ke sekolah dan melukis serta tidak takut. Guru ini tidak hanya mengajar namun menjadi penolong dan mengasihi gadis kecil ini. Memilih untuk merengkuh dan mengasihi gadis kecil itu.
Saudara-saudari berapa banyak orang yang cenderung suka sekali melihat yang negatif atau buruk dari orang lain bahkan ikutikutan untuk berkomentar dan menyebarkan narasi buruk dari orang lain, bahkan menantikan keburukan terjadi atas orang lain padahal apa yang dilakukan belum tentu buruk malah baik. Apa yang diceritakan dalam pembacaan kita dikisahkan bagaimana orang-orang Farisi itu terus mencari-cari kesalahan dan menanti-nanti kejatuhan Yesus. Namun Yesus terus melakukan tindakan kebaikan dan menyatakan yang benar berkaitan dengan tindakan hari sabat dengan terus menyembuhkan orang sakit. Apa yang dilakukan Yesus memang hal yang tidak lumrah dimana Yesus menyembuhkan orang sakit. Yesus tidak berhenti untuk melakukan kebaikan dan kebenaran. Tidak berhenti untuk menyelamatkan banyak orang dan mempertemukan orang-orang sakit dengan kasih sayang Allah yang menyembuhkan. Tuhan Yesus menjadi sahabat bagi mereka yang sakit. Yesus tetap konsisten dan tidak terpancing pada hal-hal yang tidak negatif dan buruk yang dilakukan orang-orang Farisi.
Jadi saudara-saudari yang terkasih perilaku manakah yang mau saudara ikuti? Perilaku orang Farisi atau Tuhan Yesus?. Solagracia.
- Pdt. Ima F. Simamora -







