Sebutan “Raja Damai (Prince of Peace)” dalam bahasa Ibrani adalah “Shar Shalom”, yang berarti “seseorang yang menghapus segala unsur yang mengganggu kedamaian; dan seseorang yang mengukuhkan kedamaian”. Nubuatan datangnya raja damai disampaikan nabi Yesaya ketika bangsa Yehuda mengalami penderitaan sebagai bangsa buangan. Nubuatan itu berisi bahwa bahwa Allah akan memulihkan Israel, bahkan seluruh bumi melalui seorang raja. Raja itu keturunan Daud yang akan menegakkan keadilan dan kebenaran. Hal ini digambarkan sebagai pohon yang ditebang menjadi tunggul, yang akan bertunas, bertumbuh lebih besar daripada pohon asalnya, dan berbuah lebat. Dari sana akan lahir tunas, yaitu Yesus Kristus yang menjadi Raja dunia yang nantinya akan memimpin dengan keteraturan, keadilan, dan kedamaian (Yes 2:1-5; 9:1-6).
Semua pemerintahan yang ada di dunia, kekuasaannya sering bergantung pada kekerasan, perang dan pertumbahan darah. Tetapi, kekuasaan Kristus sang Raja Damai didasarkan pada pengorbanan nyawaNya sendiri serta berdasarkan keadilan dan kebenaran. Suasana tersebut telah dihadirkan oleh Yesus Kristus melalui proses penebusan dosa yang telah dilakukan-Nya yang akan kita hayati kembali dalam Pekan Suci. Peristiwa yang dicatat dalam Markus 15:1-15 menegaskan hal itu. Ia disebut Raja namun Ia rela menderita dan mati disalibkan demi menyelamatkan manusia.Mengapa Yesus tidak gentar memilih jalan salib sebagai jalan kematian-Nya meski Ia tahu bahwa waktunya sudah dekat? Pertama, Yesus mempercayakan diri kepada Allah dan menyadari bahwa tujuan kematian-Nya adalah untuk kepentingan keselamatan umat manusia (ay.27). Kedua, melalui kematian-Nya hubungan manusia dan Allah dipulihkan. Peristiwa inilah yang nantinya akan menjadi puncak perwujudan rencana agung Allah. Dengan demikian Yesus memilih jalan salib demi untuk menggenapi rencana Allah bagi keselamatan dunia, meskipun untuk itu Ia harus mengalami serangkaian penderitaan dan berkurban nyawa dengan cara yang hina. Yesus dimuliakan karena menjalaninya dengan penuh ketaatan demi membuktikan kebesaran kasih Allah bagi manusia.
Lalu apa makna dan tujuan sang Raja Damai harus menderita? Pertama, melalui kematianNya, Kristus telah mendamaikan manusia dengan Allah (Rm 5:1; Ef 2:16-18). Inilah kebutuhan yang utama dan mendasar dari manusia berdosa, yaitu damai sejahtera dengan Allah. Kedua, Kristus memberikan damai sejahtera di hati orang-orang yang percaya kepadaNya. Damai sejahtera yang diberikan bersifat kekal, tidak dapat dirampas dan tidak dipengaruhi oleh situasi apapun yang datang dari luar. Lebih luas lagi, akibat damai sejahtera ini, manusia bisa hidup damai satu dengan yang lainnya (Rm 12:18). Karena itu, damai sejahtera itu harus aktif, dikembangkan dan dibagikan pada sesama (Ef 4:3). Marilah kita, yang sudah memperoleh penebusan dosa, hidup dalam damai dan menjaga kedamaian dengan mengupayakan hidup benar agar kita merasakan dan menghadirkan kondisi damai sejahtera di dunia. Berdamai dengan pasangan, anak, orang tua juga mertua, tetangga, rekan kerja maupun rekan sepelayanan, atasan maupun bawahan, dst.
Dalam Kristus damai sejahtera sudah datang dan menjadi nyata. Kristus Sang Raja Damai tidak hanya membawa damai sejahtera, tetapi juga mengaruniakan damai sejahtera itu kepada kita yang percaya kepadaNya. Kita adalah agen pembawa damai sejahtera di dunia ini. Kita dituntut untuk menghilangkan segala kedengkian, amarah, dan dendam dari rumah tangga maupun gereja kita dan mengubahnya menjadi persekutuan kasih, sukacita dan damai (Ef 4:3-6). Kita tidak hanya berusaha menjauhkan perselisihan, pertengkaran ataupun pertentangan, tetapi juga perlu hidup selaras dan harmonis sebagai sesama anggota tubuh Kristus (1 Kor 14:33).
Hari ini Minggu, 24 Maret 2024 di GKI Delima terjadi peristiwa bersejarah bagi perjalanan pelayanan gereja ini. Pada Kebaktian Umum pkl. 09.00 WIB dilakukan peneguhan penatua yang akan melayani di periode 01 April 2024 s/d 31 Maret 2027. Ada 5 penatua yang melayani di periode pertama dan 3 penatua di periode yang kedua. Selain itu juga dilaksanakan pelantikan Badan Pekerja Majelis Jemaat Periode 01 April 2024 s/d 31 Maret 2025 pada Kebaktian Umum pkl. 17.00 WIB. Mereka adalah pimpinan jemaat yang akan melayani sebagai hamba Kristus di GKI Delima. Selamat melayani para hamba Kristus, selamat menjadi pembawa damai dalam pelayanan saudara. Tuhan beserta kita senantiasa.
- Pdt. Adi Cahyono -







