Kontestasi politik untuk memperebutkan kursi RI 1 dan 2 (Capres dan Cawapres) periode 2024-2029 secara resmi diikuti oleh 3 pasangan calon (paslon) yang telah mendaftarkan di KPU. Saat ini proses pemeriksaan berkas dan kelengkapan dilakukan untuk memastikan bahwa ketiga pasangan tersebut memenuhi semua persyaratan yang telah ditetapkan oleh undang-undang maupun peraturan terkait lainya. Pada akhirnya nanti paslon yang lolos pendaftaran akan diuji ditentukan oleh masyarakat (termasuk kita) dalam pemilu yang rencananya dilakukan pada tanggal 14 Februari 2024. Pertanyaannya: apa yang menjadi standar/kriteria yang tepat untuk para pemimpin bangsa Indonesia selama 5 tahun ke depan? Salah satu kunci jawabannya adalah para pemimpin tersebut merupakan sosok/pribadi yang memiliki integritas. Sederhananya berarti memiliki kesesuaian antara perkataan (janji-janji) dengan perbuatan/tindakannya. Hal ini dapat dilihat dari rekam jejak (track record) mereka selama ini dalam mengemban tugas/amanah sebagai pelayan masyarakat.
Yesus menggambarkan dua karakter utama pribadi yang berintegritas, yaitu melayani sepenuh hati dengan ketulusan dan memiliki kerendahan hati. Dalam catatan Injil Matius 23:1-12, Yesus sebenarnya tidak menentang posisi ahli Taurat dan orang Farisi yang menduduki kursi Musa yang penuh kewibawaan Taurat, bahkan dengan jelas Yesus mengatakan bahwa mereka harus dihormati. Namun Yesus dengan tegas menentang sikap dan perbuatan (kepribadian) mereka pada masa itu (ay. 2-3). Ahli Taurat dan orang Farisi itu memang sangat lihai mengajar Taurat, namun mereka tidak melakukan dan menghidupinya (ay. 3-4). Ajaran mereka palsu karena hidup keseharian mereka sangat jauh dari apa yang mereka ajarkan. Mereka tidak berintegritas! Sikap yang pertama ini biasa disebut dengan NATO (No Action, Talk Only) alias Omong Doang. Sikap kedua yang dikritik Yesus dari para ahli Taurat dan orang Farisi yaitu motivasi tindakan yang mereka lakukan ternyata untuk mendapatkan pujian dari orang lain (ay. 5-7). Mereka juga berlomba-lomba untuk menjadi rabi, bapa, dan pemimpin `nomor satu' (ay. 8-10). Ternyata perbuatan baik mereka penuh dengan ambisi dan kesombongan terselubung yaitu untuk menjadi yang terkemuka dan terpandang.
Sebagai orang Kristen kita dipanggil menjadi pribadi yang berintegritas. Semakin tinggi posisi yang dipercayakan Tuhan kepada kita, baik itu di dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan di gereja dan bagian kehidupan lainnya, sebenarnya itu merupakan ujian integritas. Kalau perbuatan ibadah dan pelayanan yang kita lakukan hanya dibuat-buat atau bukan dari hati yang tulus mengasihi Tuhan serta kepedulian kepada sesama, maka itulah “ibadah/pelayanan palsu” yang tidak diperkenan Tuhan. Mari kita melayani Tuhan dengan kerinduan yang sungguh mau melayani dan memuliakan Tuhan dengan kerendahan hati. Bukan untuk dipuji orang maupun demi mencari kedudukan/pengakuan yang prestisius apalagi demi mencari kepuasan diri sendiri. Tuhan kiranya terus memampukan kita. Soli Deo Gloria.
- Pdt. Adi Cahyono -







