Kemampuan untuk mengampuni merupakan salah satu aspek ketrampilan sosial (soft skill) penting yang dibutuhkan di zaman sekarang ini supaya tetap bisa berelasi dengan sesama dan berdampak dalam kehidupan dunia. Hal ini disebabkan dalam relasi dengan orang lain pengalaman “dilukai” atau “melukai” merupakan realita yang tidak terhindarkan dan bisa terjadi atau dialami oleh semua orang dan tidak memandang usia maupun kalangan atau kedudukannya. Bahkan diakui atau tidak pengalaman “dilukai” atau “melukai” oleh orang yang sama bisa terjadi berulang kali ketika merasa bahwa tindakannya biasa saja atau tidak merasa telah melukai sesamanya.
Hal inilah yang menjadi pertanyaan Petrus kepada Yesus dalam bacaan injil Matius 18:21-35. Pertanyaan itu masih terkait dengan hal teguran kepada orang yang bersalah/berdosa. Pada masa itu pemahaman yang berlaku dalam hal pengampunan yaitu sebanyak 7 kali (bdk Kejadian 4:24). Namun Tuhan Yesus menjawab 70 x 7 kali yang bermaksud bahwa mengampuni itu tidak ada batasannya. Ia lalu memberikan pengajaran tentang pengampunan melalui perumpamaan. Setidaknya ada tiga point penting yang harus diingat dari perumpamaan tersebut:
- Setiap orang punya kesalahan. Orang yang tidak mau mengampuni sesamanya, justru mempunyai hutang 10.000 talenta (1 talenta= 6000 dinar), artinya memiliki kesalahan yang lebih besar dan tak terbayarkan dibanding dengan hamba yang berhutang 100 dinar. Tidak seorangpun merasa berhak untuk menjadi Tuhan sehingga tidak mau mengampuni kesalahan orang lain.
- Allah lebih dulu mengampuni. Hutang yang begitu besar dihapuskan oleh sang raja tanpa syarat apapun karena belas kasihan-Nya. Semestinya hamba yang sudah diampuni memiliki belas kasihan pada sesamanya dan mau mengampuni juga. Namun sayangnya ia tidak melakukannya bahkan sempat menyiksa dan memasukkan kedalam penjara untuk hutang yang relatif lebih kecil.
- Mau mengampuni berarti melakukan Kehendak-Nya. Ketidakmauan hamba yang sudah diampuni untuk mengampuni sesamanya berakibat dirinya dilaporkan oleh kawan-kawannya kepada raja dan berbuahkan penghukuman. Hal ini menegaskan bahwa Allah tidak menghendaki orang yang tidak mau mengampuni sesamanya.
Dengan demikian tidak ada alasan atau pun batasan untuk tidak mengampuni/memaafkan kesalahan orang lain karena kesalahannya pada kita. Hanya orang-orang yang sungguh menghayati pengampunan Allah, maka akan bisa meneruskan pengampunan itu kepada sesamanya. Sudah semestinya kita satu sama lain bisa saling mengampuni dengan tulus dan menerima dengan penuh kasih. Mari kita terus mewujudkannya sehingga kehidupan kita menjadi insipirasi bagi dunia yang lebih rukun dan damai. Soli Deo Gloria.Gereja akan bertumbuh sehat dan berperan dengan sebagaimana mestinya ketika anak-anak Tuhan di dalamnya saling menghargai dan menerima satu sama lain dengan penuh kasih, terus berusaha menjaga kekudusan dan saling mendorong hidup dalam pertobatan serta saling mengampuni dengan tulus. Mari kita terus berupaya melakukannya dengan pertolongan-Nya. Soli Deo Gloria.
- Pdt. Adi Cahyono -







