Pada suatu hari Abraham mengundang seorang pengemis dalam kemahnya untuk makan. Ketika doa syukur sedang dipanjatkan, orang itu mulai menghujat Allah, menyatakan tidak bisa mendengar Nama-Nya. Terdorong rasa marah, Abraham mengusir orang yang mengutuk tadi. Ketika malam itu ia berdoa, Tuhan berkata kepadanya: “ orang ini mengutuk dan menjelekan Aku sudah lima puluh tahun, dan Aku memberikannya makan setiap hari. Tidak dapatkah engkau bertahan dengan dia satu hari saja?” ( cerita; Cinta. Anthony de Mello SJ: “Doa Sang Katak 1”). Janganlah cepat-cepat mengusir orang-orang yang menyebalkan namun belajarlah kepada Allah yang tidak berkesudahan memberikan berkat dan sabar dalam memelihara umat-Nya bahkan umat yang “menyebalkan”.
Saudara dan saudari yang terkasih ada banyak orang yang melalui hari-harinya dengan rasa sakit dan menyimpan perih terus menerus sehingga hidupnya tidak dapat merasakan kedamaian dan sukacita dengan penuh. Karena ada luka dan perih yang terus tersimpan dan dipegang erat. Sering kali juga orang bisa berkata terhadap orang yang melukai bahwa dirinya sudah mengampuni atau melupakan. “ saya sih sudah ngak ingat-ingat lagi,,” sudah saya ampuni kesalahannya,” namun perih itu bisa muncul seperti barang yang disimpan sementara dan jika ada cela sedikit akan muncul lagi. Tanpa sadar bisa mempengaruhi perilaku kita sehari-hari. Kita akan gampang marah, sedih, suka protes, penuntut dan mempengaruhi fisik. Bagaimana ya jalan agar hal-hal yang negatif, perih dan luka itu tidak terus menghantui? Jawabnya: MENGAMPUNI. Mengampuni disini bukan berarti atau sama dengan melupakan.
Didalam pembacaan kita, kita diingatakan untuk mengampuni dan melalui jalan pengampunan ini tujuh puluh kali tujuh kali (Matius 18:22). Didalam alkitab angka tujuh termasuk angka yang istimewa dan seringkali dipakai. Angka ini merujuk pada hubungan relasi yang erat dengan Tuhan Allah dalam hubungan dengan perjanjian antara Allah dengan Umat dan bermakna: sesuatu yang lengkap dan menyeluruh. Jadi didalam kitab Injil kita diajak untuk menyampuni secara lengkap dan menyeluruh; tidak putus-putus. Oleh karena itu kita harus belajar dan memiliki relasi yang erat dengan Allah karena mengampuni adalah hal yang sulit dan berat kadang berat sekali. Hanya dalam kasih dan bersama Allah saja dalam Tuhan Yesus Kristus kita dimampukan untuk mengampuni orang-orang yang jahat dan menyakiti kita. Ketika kita bisa mengampuni dimana kita berdamai dengan keterlukaan dan orang-orang yang melukai kita maka kita akan merasakan kelegaan. Hidup akan lebih ringan, sakit fisik kita bisa berkurang, lebih sensitive merasakan berkat, relasi dengan Allah. Hidup jadi lebih terang dan segar. Didalam pengampunan dimana kita melakukannya bersama dan dalam Allah maka akan ada pemulihan-pemulihan kehidupan bagi kita sendiri dan sekitar kita.
Jika kita berkata: saya tidak bisa mengampuni dia..
Jangan lupakan Allah yang selalu mengampuni dan kita mohon pengampunan.
Jika kita berkata: saya tidak bisa mengampuni dia…
Jangan lupakan Allah yang akan dengan sabar membalut kita dengan cinta.
Cinta yang memampukan kita menyampuni dia yang melukai
Cinta yang memulihkan kehidupan kita.
-Pdt. Ima Frontantina-







