Sebagai manusia kita bisa saja menjadi kecewa dan bahkan menjadi tawar hati ketika kita melihat bahwa apa yang sudah kita kerjakan dalam rangka pewartaan Injil maupun menyampaikan kebenaran firman Tuhan seolah-olah tidak ada hasil atau sia-sia. Apalagi ketika dalam perjalanan pelayanan/pekerjaan Tuhan kita mengalami pertentangan dan penolakan bahkan ancaman maupun aniaya baik secara psikis/mental maupun fisik. Dalam situasi seperti itu bisa muncul pemikiran untuk berhenti atau bahkan lari dari panggilan atau tugas pelayanan karena merasa tidak kuat atau mau mencari selamat, tetapi yang sebenarnya mau mencari zona aman dan nyaman.
Bacaan Injil Matius 13:1-9;18-23 dalam leksionari minggu ini berisi pengajaran Yesus tentang keberadaan kita sebagai penerima firman Tuhan semestinya memiliki sikap hati seperti tanah yang subur sehingga firman itu dapat hidup, bertumbuh dan berbuah. Hal ini menggambarkan suatu sikap hati yang mau mendengar dan diubahkan oleh firman Tuhan sehingga kehidupan iman kita berakar kuat, bertumbuh subur dan berbuah/berdampak bagi dunia sekitar. Namun dalam tema kebaktian Minggu ini, kita diminta menyadari bahwa kita juga mesti menjadi penabur yang mempunyai tugas dan peranan untuk memberitakan firman Tuhan yang sudah kita terima agar karya pekerjaan Tuhan terus nyata di tengah dunia. Dalam pelaksanaannya kita juga harus bisa menerima kenyataan bahwa seperti Yesus sebagai penabur dalam perumpamaan tersebut, kita pun dalam perjalanan menaburkan kebenaran firman Tuhan bisa juga mengalaminya.
Namun dalam konteks tersebut kita diajak untuk fokus bukan pada kegagalan, melainkan diajak untuk melihat ada benih atau firman Tuhan yang bisa tumbuh subur, berakar kuat dan berbuah banyak. Namun perlu diingat bahwa keberhasilan itu pun butuh proses, sebagaimana pertumbuhan benih menjadi tanaman sampai menghasilkan buah maupun gambaran manusia membuat roti yang menggunakan tepung sebagai bahan adonan yang mesti diolah sedemikian rupa. Tentunya ada kuasa Allah yang mengilhami dan memampukannya. Sebagai manusia kita pun harus selalu ingat dan mengakui bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dikontrol dalam kehidupan ini. Oleh sebab itu kita harus terus bergantung dan bersandar penuh kepadaNya sehingga kita bisa tetap setia menjadi penabur kebenaran firman Tuhan dalam pelayanan maupun kehidupan sehari-hari. Soli Deo Gloria.
- Pdt. Adi Cahyono -







