Seorang pemimpin adalah sosok teladan bagi mereka yang dipimpinnya. Mereka mengambil berbagai kebijakan yang menginspirasi orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang baik belajar dari masa lalu, mengambil keputusan dengan bijak pada masa kini, serta membuat perhitungan dan rencana guna menyongsong masa depan. Artinya, segala kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin pada masa kini, yang dikatakan menginspirasi, merupakan hasil pembelajaran. Pembelajaran dari pengalaman pada masa lalu akan menjadi bekal untuk menyambut masa depan yang masih misteri.
Dalam kehidupan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, pengalaman pada masa lalu dan masa kini akan memberi dampak pada segala sesuatu yang akan terjadi pada masa depan. Sebagian besar dari orang Kristen saat ini memiliki iman kepada Yesus Kristus karena mengenal Yesus Kristus dari orang tua yang mengajarkan iman itu. Demikian pula, dengan orang tua yang sudah mempunyai keturunan. Mereka mengajarkan iman percaya akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kepada keturunannya. Meskipun demikian, hidup beriman tetap merupakan pilihan bagi masing-masing orang. Bersediakah orang percaya memilih hidup di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus, yang telah ditawarkan kepadanya?
Pada Minggu ini, umat diajak untuk meneladani Yosua, seorang pemimpin yang mengenal Allahnya. Yosua adalah seorang pemimpin pilihan Allah. Ia memberi diri dipimpin oleh Allah. Pada akhir masa kepemimpinannya, Yosua memperhadapkan bangsa Israel pada pilihan kepada siapa mereka akan beriman; kepada ilah-ilah nenek moyang mereka ketika masih ada di seberang Sungai Efrat atau kepada Ilah-ilah orang Amori, atau kepada Allah yang diimani oleh Yosua dan seluruh keluargannya (Yoh. 24 : 15). Yosua dan keluarganya memilih beriman kepada Allah, sebab ia mengenal siapa Allah yang dipilihnya.
Disadur dari Buku Dian Penuntun Edisi 42







