Presiden Republik Indonesia melalui Sekretaris Kabinetnya meminta agar perayaan Natal 2015 dan Tahun Baru 2016 dilakukan secara sederhana. Adapun alasan permintaan itu agar bisa memberikan contoh yang baik kepada warga masyarakat dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Arahan ini sebenarnya memiliki landasan teologis-biblis yang kuat.
Dalam Injil Lukas 2:1-20,
diceritakan bahwa Yesus lahir pada masa Kaisar Agustus memimpin Romawi. Kaisar inilah yang memerintahkan cacah jiwa bagi semua orang yang hidup di bawah kekuasaannya. Sensus itu membawa Maria dan Yusuf pergi ke kota Daud leluhurnya di Betlehem. Di kota itulah Maria melahirkan Yesus. Bayi Yesus lahir di kandang domba, dibungkus dengan kain lampin, dan dibaringkan di palungan menjadi penggenapan nubuat nabi Yesaya:”Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi Israel tidak memahaminya” [Yes 1:3]. Dalam kesederhanaan itu, Tuhan menggenapi janji-Nya untuk menyelamatkan manusia.
Palungan menjadi tanda pengingat Israel yang hidup dalam keangkuhan. Tetapi keangkuhan itu kini hancur saat para gembala (orang upahan) mendengar kabar sukacita yang disampaikan para malaikat. Berita sukacita yang disampaikan oleh malaikat itu direspons dengan gerak cepat dari para gembala. Lalu mereka pergi ke Betlehem, tempat di mana Yesus lahir. Mereka menjumpai bayi Yesus tepat seperti yang dikatakan malaikat, dibungkus kain lampin dan terbaring di dalam palungan (16). Rasa takjub atas penemuan itu membuat mereka tidak dapat berdiam diri. Ini pengalaman luar biasa! Tak heran hati para gembala dipenuhi semangat menyala-nyala untuk memberitakan hal tersebut kepada orang banyak.
Sukacita Natal sejati adalah semangat yang berupaya untuk mengangkat harkat mereka yang secara sosio-ekonomi berada "di bawah," dan membuat setiap orang bisa memuji dan memuliakan Tuhan serta bersaksi kepada tiap orang di sekitarnya tentang kabar baik keselamatan dalam Kristus. Bukan pesta-pora ataupun kemewahan yang penuh dengan keangkuhan dan keegoisan manusiawi yang fana adanya. Selamat Natal 2015, selamat membagikan sukacita Natal dengan penuh kasih namun tetap bersahaja.
Pnt. Adi Cahyono M.Si. (Teol)







