"Hukum Tajam kebawah, tumpul keatas"
Kata-kata diatas sangat mugkin kita dengar, apalagi sekarng-karang ini ketika ada kasus-kasus hukum dimana para pelakunya adalah orang-orang berpangkat dan berduit. Baru-baru ini Indonesia dihebohkan dengan kasus Sambo dan Putri Candrawati. Dimana keduanya sudah jadi tersangka namun PC belum ditahan dengan alasan masih memiliki seorang anak kecil. Disisi lain banyak tersangka perempuan yang notabenenya sama-sama punya anak kecil bahkan hamil namun tetap dipenjara juga. Memang seringkali penegakan hukum atau keadilan tidak diberlakukan dengan adil. Kekayaan dan kekuasaan begitu menentukan berjalannya keadilan.
Hal ini disaksikan juga didalam Firman Tuhan bagaimana orang kaya berjubah unggu begitu "puas" dan "berbahagia" dengan kekayaan dan harta bendanya. Sedangkan di depan rumahnya ada Lazarus seorang miskin dengan borok dan kelaparan, namun yang dialaminya adalah tindakan yang tidak manusiawi sehingga Lazarus mati. Padahal Lazarus hanya membutuhkan remahan yang jatuh dari meja orang kaya ini. Bukan makanan baru atau layak untuk dimakan. Suatu gambaran yang ironis.
Gamabran ketimpangan dan ketidakadilan sosial seringkali disaksikan dalam Firman Tuhan untuk jadi pengingat kita sebagai anak-anak Tuhan agar kita bisa saling peduli dan menghadirkan keadilan bagi semua orang dan kehidupan.
Lihatlah bagaimana akhir dari orang kaya yang tak peduli dan tidak adil dengan sesamanya. Dia mendapatkan hukuman yang berat dari Allah. Sedangkan Lazarus orang miskin itu masuk ke sorga. Kadilan memang milik Allah dan akan ditegakkan oleh Allah sebagai bentuk dari kepedulian Allah bagi mereka yang tertindas. Namun akan sangat berarti bila kita sebagai anak-Nya juga melakukan kepedulian bagi mereka yang lebih kurang dari kita, dan tidak menindas siapapun sesama kita. Amin.
Pdt. Ima F. Simamora







