Seorang murid lukis yang sudah menyelesaikan lukisan dengan bangga meminta masukan dan penilaian dari orang-orang. Dia memajang lukisannya di dinding yang banyak dilalui orang dan menuliskan dibawah lukisan itu: “ Bila saudara melihat kekurangan dari lukisan saya mohon memberikan goresan dilukisan ini dan catatan di kertas putih ini.” Ternyata goresan-goresan banyak sekali. Hari berikutnya dia memperbaiki lukisan itu dan memajangnya dengan catatan yang sama. Tetap banyak bahkan bertambah banyak goresan dan coretan didalam lukisannya. Sudah beberapa lukisan yang dia usahakan sebagai perbaikan lukisan sebelumnya sampai lelah dan mulai putus asa memperbaikan lukisannya. Murid lukis inipun bertanya kepada gurunya: “ Bagaimana caranya memperbaiki lukisannya,,supaya ada penilaian yang bagus.? Guru itu menjawab: “ klo begitu tuliskan,jika anda menginginkan lukisan ini lebih bagus, tolong berikan coretan atau goresan di lukisan ini. “. Ketika lukisan dipajang dengan catatan seperti itu. Berminggu-minggu dilihat ternya hampir tidak ada goresan atau coretan. Akhirnya murid lukis ini pun tersenyum.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus,, betapa seringkali sebagai manusia kita kerap kali lebih mudah untuk mencari dan menemukan apa yang kurang baik atau jelek atau negatif dari orang lain. Setelah kita lihat yang kurang baik maka kita juga sangat mudah untuk menyalahkan orang lain baik atas apa yang orang lain lakukan atau tidak. Bahkan lebih “jahat” nya kesalahan yang dilakukan terus menjadi catatan atas orang itu. Kita jadi gampang sekali menyalahkan orang lain, menilai negatif perilaku orang lain, bahkan menyimpan kesalahan atau kekurangan orang lain. Perilakuperilaku seperti ini bila terus dilakukan akan menjadi mentalitas menyalahkan. Mentalitas yang selalu menilai jelek atau mencari-cari kesalahan orang lain dan merasa diri paling benar.
Didalam pembacaan kita ada gambaran bahwa Imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi terus menerus mengamati dan mencari-cari kesalahan Tuhan Yesus. Didalam pembacaan kita, Tuhan Yesus coba diuji dengan pertanyaan dengan kuasa manakah Engkau, melakukan hal-hal itu? Dan Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu? Tuhan Yesus sedang diuji untuk dijatuhkan dan dilihat kesalahan-Nya. Namun yang menarik adalah respon Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tetap tenang dan menanggapi sikap dan pertanyaan Para Imam Yahudi dan tua-tua Yahudi dengan bijaksana.
Mentalitas menyalahkan dimana selalu mencari-cari kesalahan orang lain bukanlah mentalitas yang baik. Mentalitas ini bisa merusak dalam persekutuan jemaat bahkan dalam keseharian kita. Bahkan dapat berdampak buruk kepada masa depan dan kehidupan orang lain. Misalnya: jika seorang anak yang seringkali disalah-salahkan maka akan berkembang menjadi anak yang tidak percaya diri dan nilai dirinya rusak.
Memang kita tidak dapat menghindari berhadapan dengan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain atau diri sendiri. Oleh karena itu bila kita melihat dan menyaksikan kesalahan yang dilakukan baiklah kita dengan penuh kasih memberikan masukan dan membantu agar orang tersebut tidak menyulangi kesalahannya kembali. Dalam kehidupan kita juga bisa belajar untuk memberikan pujian dan menyampaikan penilaian yang positif yang dilakukan orang lain, menimal ucapan terimakasih. Hal ini dapat menolong kita terlepas dari mentalitas menyalahkan. Bila kita dalam posisi suka disalahkan mari belajar seperti Yesus: teruslah tenang, berharap kepada Tuhan Yesus dan terus melakukan yang terbaik. Amin.
Pdt. Ima F. Simamora







