“Merdeka..! Merdeka…! Merdeka…!” pekikan suara yang seringkali kita dengar disaat memperingati hari kemerdekaan NKRI pada tanggal 17 Agustus. Hari yang selalu identik dengan kemeriahan lomba-lomba seperti makan krupuk, panjat pinang, olahraga dll, ditambah semaraknya warna-warni merah-putih sebagai warna bendera kita begitu meriah dimana-mana. Perayaan hari kemerdekaan NKRI bahkan bisa berlangsung seminggu bahkan lebih. Setelah lewat bulan Agustus maka kembali seperti biasa, bendera-bendera dan dekorasi diturunkan dan dibersihkan. Jadi dimana letaknya kemerdekaan itu?. Bangsa ini masih terus berjuang untuk menciptakan negara yang adil dan beradab, lohginawi. Pada sisi lainnya kita harus menyadari bahwa semua perubahan yang terjadi di NKRI tergantung kepada semua orang yang tinggal didalamnya. Apakah negara itu akan lebih makmur atau akan lebih hancur. Termasuk kita anggota-anggota gereja.
Ditengah kondisi Indonesia yang sedang memulihkan kehidupan baik dibidang ekonomi dimana imbas ekonomi paska pandemi covid 19 begitu dasyat namun kita masih bisa berdiri dan menjaga kestabilan ekonomi dan tidak masuk menjadi negara bangkrut. Terlihat semakin panasnya persaingan politik yang semakin jelas memanfaatkan berbagai elemen dan isuisu ditengah masyarakat. Dimana masyarakat Indonesia begitu beragam dari status sosial, politik, Pendidikan dan suku. Menjadikan isu-isu seperti: keagamaan, keadilan, kekerasan bahkan perselisihan biasa antar tetangga atau dijalan saat berkendara bisa menjadi pemicu timbulnya konflik yang besar dan menimbulkan kebencian terhadap pihak tertentu. Lalu apa yang harus kita lakukan?. Mari Belajar dari seorang perempuan Kanaan yang anaknya kerasukan setan.
Perempuan Kanaan menjadi sosok yang dipakai Allah untuk menjadi kesaksian bagaimana Allah berkenan untuk menghadirkan karya keselamatan kepada orang-orang Kanaan. Orang-orang Kanaan adalah kaum yang dianggap dan diperlakukan sebagai kaum diluar kaum ”umat pilihan”, kaum yang sering kali diperlakukan tidak pantas oleh bangsa Israel. Dalam masalah yang besar perempuan Kanaan ini menghampiri dan memohon dengan rendah hati kepada Yesus untuk kesembuhan puterinya yang kerasukan. Dalam percakapan dirinya dengan Yesus, Yesus mengungkapkan bagaimana status perempuan Kanaan ini yang dianggap tidak layak namun dengan keyakinan iman dan kesabarannya perempuan Kanaan ini akhirnya menerima keselamatan dan anugerah bagi dirinya dan anak-nya.
Ditengah kehidupan berbangsa, kita seringkali dinilai dan diperlakukan diskriminasi dimana saat ini kita juga dalam kondisi dalam masalah yang besar. Kita bisa bersikap seperti perempuan Kanaan bahwa dirinya bisa menjadi jembatan bagi umatnya. Kita juga bisa menghadirkan anugerah dan keselamatan bagi bangsa kita. Keselamatan dan anugerah dari Allah yaitu kasih dan damai sejahetera yang berlaku dalam kehidupan keseharian kita sekalipun kita seringkali dilihat sebelah mata, didiskriminasikan dan dalam masalah yang besar. Amin
- Pdt. Ima F. Simamora -







