Pada umumnya orang berlomba-lomba untuk memperoleh kedudukan dengan harapan bisa memiliki kuasa atau kewenangan untuk mengatur orang lain. Apalagi kalau dalam kedudukan itu ada iming-iming keuntungan, baik secara materi maupun pengakuan/prestisius sehingga bisa menaikkan pamor atau statusnya. Maka bukan tidak mungkin akan menggunakan kekuasaannya untuk memanipulasi/mengeksploitasi orang yang dipimpinnya demi mendapatkan apa yang diinginkanya. Namun Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya.
Dalam bacaan Injil Yohanes 10: 11-18 Tuhan Yesus menyatakan diri sebagai Gembala yang baik, yang memelihara dan melindungi domba-domba gembalaan-Nya dengan rela mati demi keselamatan mereka (ay. 11, 15). Bahkan Ia bersedia mengurbankan nyawa-Nya bagi keselamatan domba-domba dari kandang lain, yang juga harus digembalakan (ay.16). Gembala yang baik mengasihi, memedulikan, dan mengenal semua domba-Nya karena semua domba itu berasal dari Bapa (ay. 14a). Itu sebabnya, domba-domba itu mengenal Gembala mereka (ay. 14b). Domba-domba itu dimengerti sebagai umat Israel, tetapi keselamatan Allah juga mencakup bangsa-bangsa lain. Baik orang Israel maupun bangsa-bangsa lain yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah domba-domba milik Allah yang dipercayakan kepada sang Gembala. Ia rela mati di kayu salib supaya yang percaya kepada-Nya mempunyai hidup. Kematian Tuhan Yesus demi menyelamatkan manusia adalah atas kehendak Allah Bapa dan kerelaan Tuhan Yesus (ay. 17-18).
Apa yang diungkapkan Yesus itu benar-benar digenapi dengan kesediaannya mati dengan cara disalibkan. Sikap seperti ini jelas berbeda dari sikap para upahan, yang bekerja hanya atas dasar upah sehingga waktu bahaya datang ia akan menyelamatkan diri sendiri bukan menjaga domba-domba itu (ay. 12-13).
Yesus memiliki kuasa untuk tidak mengurbankan nyawa-Nya, tetapi dengan sukarela Ia telah memilih untuk mengurbankan nyawa-Nya demi kepentingan umat-Nya. Dia menggunakan kuasa-Nya untuk menggembalakan domba-domba-Nya agar hidup dan terpelihara. Sudahkah kita sungguh bersyukur atas pengurbanan Sang Gembala yang baik yang telah menyelamatkan kita?
Apa yang dilakukan Yesus bukan hanya menunjukkan kekuasaannya tetapi sebuah pengajaran mendasar bagi setiap kita yang memiliki kuasa untuk menggembalakan (baca: memimpin) di tengah dunia ini. Minimal kita mesti bisa memimpin diri kita sendiri agar tidak larut terpengaruh oleh hal-hal yang membuat hidup kita tidak bisa menyatakan identitias kita sebagai murid atau pengikut Kristus. Apalagi ketika kita dipercaya dan diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam sebuah komunitas dimana kita berada, baik di gereja dalam pekerjaan atau usaha, bukan tidak mungkin kita menjabat suatu kedudukan dengan kuasa/kewenangan tertentu di tengah masyarakat. Ingat ya, Yesus mengajarkan agar kita rela berkurban bagi orang yang kita pimpin/layani, menggembalakan mereka dengan penuh kasih dan memberikan yang terbaik. Bukan sebaliknya mengekspolitasi orang yang mestinya dilayani demi kepentingan atau ego diri sendiri menggunakan kekuasaan yang ada.
Marilah memberi kesaksian iman yang menguatkan dan memberkati sesama melalui kesediaan kita menjadi pengikut Kristus yang membuat orang lain merasakan kebaikan dan transformasi melalui kepemimpinan maupun pelayanan kita. Itulah wujud ungkapan syukur dan kebanggaan kita karena memiliki Gembala yang baik. Tuhan beserta kita.
Pdt. Adi Cahyono







