Hidup sebagai pengikut Kristus bukanlah hidup yang tanpa arah dan tujuan. Allah memberi berlimpah anugerah dalam hidup ini supaya kemudian umat-Nya mengisi hidup dengan bermakna dan membawa dampak bagi sekitarnya. Salah satunya yaitu anugerah untuk mendengar tentang Yesus dan mengenal-Nya serta dipanggil menjadi pengikut-Nya. Ada banyak orang yang mendengar tentang Yesus, tetapi tidak semua mau belajar untuk mengenal lebih dekat dengan-Nya. Ada orang yang mengenal Yesus namun tidak mau atau tidak benar-benar menjadi pengikut-Nya. Karena menjalani hidup sebagai pengikut Kristus seringkali mendatangkan konsekuensi bahkan resiko yang tidak mudah dihadapi.
Dalam catatan Injil Yohanes 1:29–42, dicatatkan tentang peristiwa Yohanes Pembaptis yang menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah (ay.29). Sebagai seorang anak imam, yang bertugas mempersembahkan korban, ia tahu benar bahwa setiap pagi dan petang selalu dikorbankan seekor anak domba di Bait Allah, bagi dosa-dosa umat Israel (lih. Kel. 29:38-42). Yohanes Pembaptis sudah tahu dan mengenali Yesus adalah Anak Allah yang akan menghapus dosa manusia dengan kematian-Nya sebagai korban yang sempurna. Dengan memahami siapa dirinya dan siapa Kristus, Yohanes tahu bagaimana dia harus bersikap dan apa yang harus dia lakukan bagi Kristus. Dia sadar bahwa dirinya tidak lebih dari Kristus, Dia tahu bahwa dirinya harus bersaksi tentang Kristus.
Dengan demikian kita yang telah menerima anugerah keselamatan dari Kristus, kiranya juga bersikap merendahkan diri di hadapan Tuhan. Nyatakanlah itu dengan kesediaan untuk melayani Dia dan bersaksi bagi nama-Nya. Melalui kata, tindakan, dan hidup kita, biarlah orang lain melihat bahwa penebusan Kristus memberi dampak yang menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya di dalam hidup kita.
Mari kita mensyukuri anugerah sebagai pengikut Kristus dengan hidup bermuara kepada Kristus yang bukan hanya sebagai Tuhan dan juruselamat kita, melainkan sumber inspirasi dan energi kita untuk terus menyatakan kasih kepada sesama sebagai kesaksian hidup kita. Tuhan beserta kita senantiasa.
- Pdt. Adi Cahyono -







