Menata Ruang Psikis Dan Spiritual
Keluarga perlu menata rumah secara psikis dan spiritual. Orang akan mampu menata hati, bersimpati bahkan berempati kepada yang lain, bila ia menghidupi spiritualitas hidupnya secara baik. Spiritualitas yang dibangun berdasarkan iman yang teguh kepada Tuhan. Iman yang tidak hanya ungkapan percaya dalam hati dan mulut, tetapi juga yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Iman yang tidak hanya dihidupi secara pribadi, namun dalam persekutuan atau relasi bersama dengan yang lain, dalam persekutuan dengan anggota keluarga kita. Dengan demikian, jiwa kita menjadi sehat dan hidup kita menjadi semakin bermakna.
Sebagai pengikut Kristus, kita diingatkan pada Firman Tuhan yang tertulis dalam Roma 15:1-7. Melalui teks ini, kita diajak agar mau meneladan Tuhan Yesus yaitu dengan tidak mencari kesenangan kita, mau memerhatikan yang lain, menanggung kelemahan yang tidak kuat dan mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya (ay. 1-2). Dengan cara seperti itu, tidak hanya orang lain yang terbangun dan berbahagia, namun juga kita. Melaluinya kita semakin diasah untuk menjadi orang yang semakin berkenan kepada Tuhan. Doa kita tentu seperti yang disampaikan oleh rasul Paulus untuk jemaat di Korintus, “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (ay. 5-6). Sama seperti Tuhan Yesus telah menerima kita untuk kemuliaan Allah, maka kita juga dipanggil untuk menerima satu akan yang lain apapun keberadaan yang lain tersebut.
Apa yang disampaikan surat Roma tersebut sangat penting bagi kita dalam menata kembali kehidupan kita. Karena berbagai pergumulan hidup, kehidupan rumah tangga kita kadang menjadi retak bahkan tercabik-caik. Relasi yang ada menjadi suam-suam kuku, bahkan rusak. Untuk itu diperlukan kerelaan dari masing-masing anggota keluarga untuk kembali berfokus pada Tuhan, bersama-sama dengan kekuatan Tuhan menata kembali kehidupan keluarga dan berani serta tekun berjuang menciptakan ruang bersama yang aman, nyaman dan mendatangkan berkat baik bagi diri sendiri, keluarga maupun orang lain.
(MS diedit dari Bahan Keluarga LPPS)








