Di dunia tempat kita tinggal saat ini, hidup yang mulia atau kemuliaan hidup seringkali diukur berdasarkan materi maupun posisi (kedudukan/jabatan) yang seringkali berorientasi kepada gengsi (pengakuan diri). Tidak heran, jika demi meraih kemuliaan yang diukur secara materi atau gengsi itu, orang rela melakukan apa saja termasuk melakukan kejahatan (penipuan, pemerasan, korupsi) bahkan dengan kekerasan kepada sesamanya. Dengan kata lain supaya orang itu nampak lebih mulia dan lebih hebat dari yang lain justru ia mengorbankan sesamanya. Pada hari Minggu Pra Paskah V (kelima) ini kita diajak untuk memahami bahwa menempuh “Jalan Salib: jalan penderitaan dan kematian” merupakan jalan yang dipilih Yesus dengan mengorbankan diriNya demi menggenapi rencana keselamatan Allah bagi dunia.
Dalam bacaan Injil Yohanes 12:20-33 dikisahkan bahwa Yesus telah tiba pada tahap akhir pelayanan-Nya kepada orang Yahudi. Yesus dengan penuh kesadaran menjelaskan bagaimana Ia dimuliakan, yakni ketika Ia ditinggikan di salib (ay. 32-33), sesuai Yesaya 52:13. Salib bukanlah pertanda kekalahan, melainkan pemuliaan: kematian Yesus mendatangkan penghakiman kepada dunia yang menolak Dia (ay.31) dan keselamatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya (ay.32). Bapa pun telah memuliakan nama-Nya (ay. 28a) melalui seluruh pelayanan Yesus di bumi, yang dituntaskan-Nya di kayu salib. Bapa akan memuliakan nama-Nya lagi (ay.28b) ketika melalui salib itu, Yesus menarik semua orang datang kepada-Nya (ay. 12:32). Yesus menegaskan bahwa di dalam kematian-Nyalah kemuliaan Allah dalam diri-Nya akan dinyatakan. Dengan kata lain “jalan pemuliaan adalah jalan salib”.
Mengapa Yesus tidak gentar memilih jalan salib sebagai jalan kematian-Nya meski Ia tahu bahwa waktunya sudah dekat? Pertama, Yesus mempercayakan diri kepada Allah dan menyadari bahwa tujuan kematian-Nya adalah untuk kepentingan keselamatan umat manusia (ay.27). Kedua, melalui kematian-Nya hubungan manusia dan Allah dipulihkan. Peristiwa inilah yang nantinya akan menjadi puncak perwujudan rencana agung Allah. Dengan demikian Yesus memilih jalan salib demi untuk menggenapi rencana Allah bagi keselamatan dunia, meskipun untuk itu Ia harus mengalami serangkaian penderitaan dan berkurban nyawa dengan cara yang hina. Yesus dimuliakan karena menjalaninya dengan penuh ketaatan demi membuktikan kebesaran kasih Allah bagi manusia.
Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang yang beriman kepada Tuhan Yesus kita juga harus siap menerima dan memikul “salib Kristus” sebagai jalan kemuliaan. Hal ini menuntut kesediaan diri untuk siap menderita dengan setia dan berkorban dengan tulus untuk menggenapi rencana dan karya keselamatan Allah bagi dunia ini. Bersediakah dan sanggupkah kita? Kiranya Tuhan terus menolong kita. Soli Deo Gloria.
- Pdt. Adi Cahyono -







