Matius 21:33-46
Anakmu Bukan Milikmu
By : Kahlil Gibran
Anak adalah kehidupan,
Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan Pikiranmu karena mereka Dikaruniai pikiranya sendiri
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
Karena jiwanya milik masa mendatang
Yang tak bisa kau datangi
Bahkan dalam mimpi sekalipun
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan tidak tengelam di masa lampau.
Kaulah busur, Dan anak – anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya, hingga anak panah itu meleset, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan sukacita
Dalam rentangan Sang Pemanah,sebab
Dia Mengasihi anak- anak panah yang meleset laksana kilat,
Sebaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
Puisi karya dari Kalil Gibran ini bermakna bahwa setiap anak memiliki haknya untuk dihargai, disayang, dirawat dengan tulus dan penuh kasih sayang dimana didalamnya juga diberikan kebebasan. Ketika seorang anak dirawat dengan nilai kekristenan yang penuh kasih dan kehangatan dalam hidup sehari-hari. Maka anak-anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik dan penuh kasih didalam kehidupan. Maka anak-anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik dan penuh kasih didalam kehidupan. yang terjalin antara anak dan orang tua, saudara-saudara akan tercipta kehangatan. Hal ini akan mengalir dalam hubungan dengan orang lain. Meskipun ada perbedaan, masalah atau berantemberantemnya, namun tetap hangat. Tetapi sebaliknya bila hubungan antara orang tua dan anak tidak hangat, rapuh, formalitas, ada kekerasan yang sering terjadi maka anak-anak akan jadi sangat rentan dan suatu saat tidak mustahil orang tua bisa terluka atas perilaku anak, diabaikan.
Didalam pembacaan firman Tuhan (Matius 21:33-46) digambarkan kondisi kebun anggur yang terawat dengan baik namun diluar dari kebun anggur betapa kejahatan dan kekejaman sangat mudah terjadi. Keluarga kita ibarat kebun anggur itu dan setiap orang didalam keluarga adalah pengelolanya maka setiap kita diajak untuk mengelola kebun itu dengan baik dan benar agar anggur yang dihasilkan baik dan bermanfaat bagi banyak orang. Bagi kita yang sudah dewasa kita adalah pengelola yang berpengalaman dan dipercaya untuk bisa melatih dan mengajari junior kita untuk mengelola kebun anggur/ keluarga. Para junior adalah anak-anak kita atau anak-anak disekitar kita. Kita diingatkan akan harapan dari Sang Tuan pemilik kebun anggur agar kita mengelola kebun anggur atau keluarga kita dengan kasih sayang dan kehangatan sehingga setiap relasi antara Tuhan Yesus, orang tua dengan anak atau Tuhan Yesus, orang dewasa atau anak-anak bisa terjalin dengan kehangatan dan penuh kasih sayang. Maka keluarga kita akan menjadi keluarga yang kuat dan saling meneguhkan, saling menjaga, menopang sekalipun ada masalah, badai bahkan kejahatan-kejahatan mengintai namun kita bisa melalui dan mengatasinya. Sehingga ketika kita sebagai orang tua tidak akan menjadi takut bila anak-anak akan meninggalkan, melukai bahkan “membuang” kita. Karena cinta yang tulus dan hangat jauh lebih kuat dari apapun didunia apalagi uang.
Mari dalam rangka awal bulan keluarga ini kita saling menghangatkan dalam keluarga kita dan sebagai keluarga dalam Tubuh Yesus Kristus.
Pdt. Ima F. Simamora







