Majelis Jemaat

Rayon

Komisi

Kelompok Kerja

Disadari atau tidak, dunia ini mendorong orang semakin individualistis, mengejar kenyamanan, kenginan untuk dilayani begitu rupa, memiliki kekuasaan yang besar, menjadi terkemuka, memiliki jabatan yang tinggi, dan populer. Sikap-sikap ini tentu mengakibatkan kehidupan di tengah masyarakat penuh dengan tekanan psikologis, seakan tidak ada ruang untuk berbagi cerita, penuh tuntutan, dan seakan membuat kita sendirian di tengah dunia yang ramai ini. Tidak bisa dipungkiri, situasi tersebut juga menjangkiti kehidupan berkeluarga sehingga memudarkan semangat melayani di dalam keluarga. Keluarga seharusnya berperan penting menjadi tempat pendidikan pertama. Keluarga diharapkan menjadi tempat yang kondusif untuk membangun spirit melayani di antara anggota-anggotanya.

Sikap yang hanya mementingkan diri sendiri, lalu tidak peduli terhadap orang lain merupakan sebuah wujud merasa diri lebih baik; ingin menonjol di segala hal, ingin lebih dihormati, dipilih, selalu harus didengarkan suaranya, dan minta dilayani, dan lain sebagainya. Siapa sih yang tidak suka dilayani, memiliki kekuasaan yang besar, dan dapat mengatur segalanya menurut keinginannya? Hal tersebut yang menjadi keinginan Yohanes dan Yakobus. Kedua murid itu menginginkan kedudukan yang lebih tinggi daripada para murid lainnya. Kedua murid ini mendekati Yesus dan meminta duduk dalam kemuliaan kelak, duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus. Yesus menjawab bahwa apakah kedua murid itu mampu menghadapi pergumulan berat yang akan dialami oleh Yesus? (Mrk 10:39).

Oleh karena mendengar permintaan tersebut, para murid yang lain marah kepada Yakobus dan Yohanes. Kemudian Yesus menengahi dan menenangkan mereka, serta mengajak mereka untuk menjadi orang-orang yang berbeda dengan apa yang lumrah bagi dunia. Harus berbeda dari para pemerintah bangsa-bangsa. Yaitu bahwa “barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mark 10:43b-44). Tuhan Yesus menghendaki para murid memiliki sikap batin “hamba” atau “peladen,” atau “batur,” atau “abdi,” atau “pelayan”.

Di tengah hidup berkeluarga, marilah kita menghidupi sikap hamba yang selalu saling melayani di antara anggota keluarga, dan senantiasa bersedia melayani orang lain. Jika setiap orang menghidupi sikap seorang hamba, tentunya kehidupan kita akan dipenuhi sukacita, sebab tidak ada orang yang merasa paling baik, lebih mampu, dan seterusnya. Dengan memiliki sikap seorang hamba, keluarga tidak lagi menjadi keluarga yang hanya menuntut anggota keluarganya, tetapi menjadi keluarga yang saling mendukung dan ingin memberi yang terbaik satu sama lain. Hal ini dapat menumbuhkan sikap kedekatan satu dan lainnya, juga perasaaan diterima dan dihargai serta didukung untuk melakukan hal-hal yang baik. Sehingga keluarga kita menjadi penuh cinta dan kasih. Kiranya Tuhan menolong setiap keluarga kita untuk mewujudkannya.

Pdt. Adi Cahyono, M.Si

 

Gereja yang Menjadi Berkat Bagi Sesama

Sub Tema Tahun Pelayanan 2016 - 2017

Jadwal Kebaktian

Sekolah Minggu :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Remaja :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Pemuda :
Minggu Pukul 11.00 WIB

Kebaktian Lansia :
Jumat Pukul 10.00 WIB

Kebaktian Umum : 
1. Minggu Pukul 06.30 WIB
2. Minggu Pukul 09.00 WIB
3. Minggu Pukul 17.00 WIB

 

Facebook GKI Delima

 

Download Warta Jemaat

 

Download Liturgi Kebaktian