Mengucap syukur atau berterima kasih dengan perkataan bisa dan sudah biasa dilakukan, tetapi bersyukur dari hati dan dengan tindakan, ternyata dibutuhkan kesadaran dan kesediaan mengakui bahwa segala sesuatu yang diperoleh itu, berasal dari Tuhan. Hanya orang yang beriman yang tahu bersyukur dan berterima kasih, karena Tuhan memberkati dan menolong umat-Nya tidak selalu dengan hal-hal yang fantastis atau spektakuler. Kadang Tuhan bekerja dengan cara tidak terduga, bahkan dengan hal-hal sederhana dan “sepele” sehingga dianggap biasa saja atau tidak terasa.
Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan mengenai kesembuhan sepuluh orang kusta, yang tidak ditemukan dalam kitab Injil lainnya. Yesus telah berada di garis batas wilayah perbatasan yang menghampar di antara Samaria dan Galilea (ay.11). Di sebuah desa perbatasan itu Yesus bertemu dengan sepuluh orang yang sakit kusta dari kejauhan (ay.12). Yesus berkenan ditemukan oleh orang-orang tsb dan memenuhi permintaan mereka secara menyeluruh dengan cara memerintahkan mereka datang kepada para imam (ay.13-14a). Lalu mereka tanpa ragu segera pergi mencari imam-imam dan dalam perjalanan itulah mukjizat kesembuhan terjadi, tubuh mereka menjadi tahir (ay. 14b). Namun dari kesepuluh orang sakit kusta tadi, ternyata hanya satu orang yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur dan memuliakan Allah (ay.15). Itupun ternyata orang Samaria yang dianggap kafir atau warga asing. Yesus pun mengapresiasi sikap dan tindakan itu sebagai wujud imannya yang telah menyelamatkannya.
Melalui kisah ini kita belajar bahwa orang yang sungguh beriman semestinya bukan hanya saat meminta pertolongan kepada Tuhan saja. Tetapi mau atau tahu untuk bersyukur dan berterima kasih juga merupakan tindakan iman karena mengakui anugerah dan kebaikan Allah. Walaupun seolah-olah Tuhan tidak berbuat sesuatu secara langsung atau dengan tindakan yang spektakuler.
Di bulan keluarga tahun 2022 ini, sebagai keluarga Kristus marilah kita bersyukur dan berterima kasih untuk segala penyertaan dan pemeliharaan Tuhan karena kita bisa kembali bersama menjalani kehidupan sebagai keluarga GKI Delima setelah pandemi Covid 19 semakin terkendali. Selain itu kita juga harus menyaksikan kebaikan Tuhan sebagai cara bersyukur dan memuliakan Tuhan. Diantaranya dengan terlibat/ambil bagian dalam pelayanan sebagai sambut jemaat, song-leader, pemusik, terlibat dalam kepanitiaan, menjadi aktivis (pengurus bapel), bahkan jika memang dipanggil, bersedia untuk menjadi Majelis Jemaat (penatua). Semua itu dijalani dengan giat atau semangat, tekun dan sukacita. Tuhan memberkati.
Pdt. Adi Cahyono







