Dalam berita-berita yang dimuat baik secara online atau televise memuat bagaimana masyarakat menyikapi pandemi ini. Ada hal yang menarik karena ada sebagian yang berusaha disiplin dengan memakai masker dan jaga jarak namun ada juga yang menganggap pandemik ini hal yang “biasa” saja sehingga tidak menghiraukan protokol kesehatan; tidak pakai masker, berkerumun dll. Kita juga melihat dari siaran televisi atau media online bagaimana orang-orang berhimpit-himpitan memborong banyak barangbarang, berebut memasuki kereta atau yang baru-baru ini adalah demonstraasi besar-besaran tanpa memperdulikan protokol kesehatan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa ditengah masyarakan masih banyak orang-orang yang bersikap tidak terlalu memperdulikan keselamatan dirinya dan orang lain. Jika protokol kesehatan yang diwajibkan untuk dilakukan sebagai jalan untuk menyelamatkan atau menolong kita, mengurangi resiko tertular dari Covid 19 ini masih sulit untuk dilakukan bagimana dengan Firman Tuhan?. Bisa jadi loh bahwa Firman Tuhan itu sekedar ingatan namun bukan untuk diberlakukan dalam keseharian atau hanya berlaku untuk orang lain bukan untuk diri sendiri. Sekalipun orang itu berasal dan dibesarkan dari keluarga Kristen, sering hadir dan berkegiatan digereja bisa jadi perilakunya tidak menjadi lebih baik. Hal ini bisa berasal dari kesalahan akan memafami Firman Tuhan.
Didalam pembacaan Firman Tuhan digambarkan dimana orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat yang sudah sangat menguasai Firman Tuhan mencoba menjebak Tuhan Yesus dengan pertanyaan berkaitan dengan Hukum yang terutama. Sebagai ahli kitab pasti orang-orang Farisi sudah paham dengan hukum yang terutama: “ Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yang menarik adalah Tuhan Yesus menambah jawaban dengan hukum kedua: “ Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Dalam jawaban ini Tuhan Yesus hendak menekankan bahwa mengasihi Allah dengan berpegang pada Firma Allah harus dengan cara mengasihi Allah dengan totalitas dan sungguhsungguh. Menyasihi Allah juga kita mengasihi sesama seperti diri kita sendiri, sehingga dalam menjalankan Firman Allah, tidak bisa dilepaskan dengan perbuatan keseharian kita. Tuhan Yesus menghendaki agar kita mengimani Firman Allah sekaligus menjadi pelaku Firman Allah dalam kehidupan seharihari. Bukan seperti ahli-ahli Tauran atau orang-orang Farisi yang menguasai Firman Allah namun tidak melakukan dalam kehidupan sehari-hari malah memakai Firman Allah menjadi alat untuk kepentingan sendiri, kekuasaan orang-orang Farisi bahkan menjebak Tuhan Yesus. Amin
-Pdt. Ima F. Simamora-







