Perumpamaan yang dipakai Tuhan Yesus menggambarkan kondisi dimana seorang korban perampokan yang terabaikan oleh “saudara” nya sendiri namun ditolong oleh orang Samaria. Dikisahkan bagaimana orang-orang Yahudi yang melihat dan melewati korban perampokan berlalu begitu saja sedangkan orang Samaria yang dianggap tidak sedarah bahkan di diskriminasikan malahan menolong korban ini. Hal yang menarik adalah pertanyaan Tuhan Yesus: “Menurutmu siapakah sesamamu manusia”? Pertanyaan Yesus ini mau menekankan bahwa sesama manusia (Yun: Plesion) tidak terbatas pada ikatan darah atau kekeluargaan namun setiap orang yang merasakan kesenasiban dan terpanggil untuk bisa mengasihi.
Dalam ilustrasi ini juga hendak medobrak pemahaman berkaitan dengan ikatan-ikatan relasi di dalam kehidupan orangorang Yahudi. Dimana orang-orang Yahudi sering kali merasa bahwa mereka jauh lebih kudus dan baik dari suku-suku lainnya. Sehingga menganggap bahwa sesama itu adalah: sesama orang Yahudi.
Seringkali dalam kehidupan ini bisa terjadi sikap seperti orang-orang Yahudi dimana kita hanya mau menolong mereka yang sedarah saja, seagama saja, sekeluarga saja, sedangkan dengan mereka yang diluar sedarah dan seagama atau sesuku, kita anggap diluar dari sesama kita. Kita bisa terjebak pada sikap yang salah. Bukan segera menolong mereka yang membutuhkan atau menjadi korban malah kita menghambat karya Tuhan Yesus yang menyelamatkan setiap orang. Kita malah menahan memberi pertolongan, bersikap cuek, apatis bahkan diskriminasi.
Tuhan Yesus mengingatkan panggilan kita yaitu untuk menjadi jembatan penyelamatan bagi setiap orang yang menjadi korban dan orang-orang yang susah sebagai cerminan kasih. Hal ini bisa sangat mudah dan sederhana ketika kita memiliki paradigma bahwa sesama kita adalah setiap manusia yang membutuhkan.
-Sola Gracia-







