Pada seri sebelumnya kita telah belajar tentang bagaimana ciri-ciri dari apa yang dinamakan dengan luka batin, bahwa luka batin dapat memiliki dua output yang berbeda dapat ofensif ataupun defensif. Selain belajar dari output yang dihasilkan, kita juga belajar tentang bagaimana cara menumbuhkan inner healing dalam diri kita. Memang bukan proses yang mudah untuk dapat menumbuhkan inner healing, namun itu juga bukan merupakan suatu keniscayaan. Ketika kita sudah dapat memperoleh inner healing dalam diri kita dan berdamai dengan diri kita sendiri, lalu bagaimana sikap kita terhadap orang lain yang sering kali masih menjadi bagian dari luka kita?
Sulit rasanya memaafkan orang lain atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kita, baik itu perbuatan ataupun sikap mereka yang meremehkan dan merendahkan kita. Bahkan disaat sekarang banyak orang yang secara sengaja melukai hati orang lain, lalu dengan mudah ia katakan “ah gitu doang baper” “jangan lemah kalo jadi orang” dan kata-kata lainnya yang justru seolah menjadi pembelaan atas sikap kasarnya kepada kita, bukan malah mengakui dan meminta maaf atas apa yang telah didperbuat.
Ironinya hal tersebut dilakukan bukan oleh orang lain yang tidak kita kenal, melainkan dilakukan oleh sekitar kita sendiri, oleh teman kita, saudara kita, rekan sepelayanan kita bahkan keluarga kita sendiri. Seolah setiap perkataan yang menyakitkan akan lalu begitu saja seiring berjalannya waktu dan beranggapan ‘everything will be okay !’ sehingga tidak perlu rasanya meminta maaf, karena berpikir toh orang yang disakiti akan lupa seiring berjalannya waktu. Padahal layaknya sebuah papan yang terpaku, sekalipun paku itu dicabut, tentu akan meninggalkan bekas pada papan yang sudah terpaku tersebut.
Marilah Bapak/Ibu bersama kita bergabung dalam acara Bina Iman GKI Delima yang akan diadakan pada hari Selasa, 15 Juni 2021 yang akan dibawahakn oleh Pdt. Mulyadi (GKI Muara Karang) pk 19.00 melalui zoom atau YouTube GKI Delima. See you !
(MJ. Bid. Pembinaan)







