Dalam Injil Markus 4:35-41 dikisahkan tentang situasi para murid ketika mereka dilanda angin taufan saat berlayar di danau Galilea. Yesus yang sedang tidur di buritan dianggap tidak memedulikan keselamatan mereka. Maka mereka membangunkan Yesus dengan kesal seolah Yesus membiarkan mereka akan binasa (ay. 38). Lalu Yesus bangun, menghardik angin taufan itu dan seketika danau itu menjadi teduh (ay. 39). Yesus juga menghardik para murid karena telah menganggap bahwa Yesus tidak peduli pada mereka (ay.40). Tindakan para murid tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak beriman/percaya sepenuhnya kepada Yesus. Mereka lupa bahwa Yesus yang mengajak mereka menyeberang dan bersama dengan mereka di perahu sudah melakukan berbagai mukjizat. Rasa takut dan panik membuat mereka meragukan siapa Yesus dalam kehidupan mereka. Ketakutan itu merupakan wujud kegagalan untuk percaya bahwa Tuhan tetap memegang kendali atas kehidupan dunia ini.
Dalam KBBI versi online/daring, kata “Buritan” berarti: bagian belakang kapal atau perahu. Dalam situs Wikipedia dijelaskan bahwa dalam bagian buritan terdapat instrumen pengendali (rudder dan lain sebagainya). Dengan demikian melalui kisah di atas Yesus ingin menunjukkan kepada kita bahwa Dia ada bersama kita setiap saat, bahkan ketika angin topan dan badai kehidupan sedang mengamuk dengan dahsyat dan sangat mengancam keberadaan kita Tuhan tidak tertidur namun sebaliknya Dia mengerti kesulitan kita dan peduli keselamatan kita. Dengan kata lain kita perlu terus menyadari dan mengakui bahwa keberadaan Tuhan sebagai pemegang kendali hidup tidak perlu diragukan lagi.
Pengalaman-pengalaman para murid dilanda badai di tengah danau seringkali juga terjadi dalam kehidupan kita sampai saat ini. Sudah berulang kali kita merasakan pertolongan dan mukjizat Tuhan, namun ketika badai persoalan hidup melanda sering kita menjadi ketakutan, panik dan kebingungan. Kita merasa ditinggalkan Yesus, justru pada saat-saat kita sangat membutuhkan pertolongan-Nya. Teriakan para murid karena ketakutan dan frustrasi sebenarnya juga menggemakan teriakan kita kepada Tuhan Yesus manakala situasi-situasi krisis dalam kehidupan kita menggoncang iman kita. Berbagai situasi krisis yang ada sebenarnya memberikan kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam rasa percaya penuh kepada Tuhan Yesus selagi kita menyakini Dia bekerja dalam kehidupan kita.
Kadang-kadang Tuhan mengijinkan kita merasakan sakit begitu berat dan lama sehingga menutupi kasih besar Allah bagi kita. Namun sebenarnya melalui sakit kita, kelemahan kita, kekhawatiran dan keputusasaan kita, Yesus ingin mengajar kita untuk sungguh-sungguh percaya kepada-Nya dan mengandalkan Dia. Saat-saat penderitaan dan sakit adalah saat-saat di mana Allah menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang sejati dan bersifat mengikat kepada kita. Memang perlu iman yang besar untuk memercayai bahwa Tuhan 'yang terlihat/terkesan sedang tidur' tetap memerhatikan kita. Inilah prinsip iman yang ingin dibangun Tuhan dalam diri para murid termasuk kita, hingga dapat menyadari bahwa Yesus juga berkuasa atas alam semesta. Ia yang berkuasa itu, peduli juga pada kita sampai saat ini terutama di masa pandemic ini. Oleh sebab itu kita perlu belajar bahwa iman kepada Kristus akan kokoh ketika kita tidak lagi bergantung pada kemampuan diri sendiri, melainkan hanya jika kita menjadikan Dia sebagai satu-satunya harapan pertolongan kita. Terkadang kita dapat merasakan kesedihan mendalam, kebingungan bahkan putus asa namun kita harus selalu ingat dan percaya bahwa Yesus adalah Imanuel, Allah yang senantiasa menyertai kita.
(Pdt. Adi Cahyono)







