Euforia kemenangan Joe Biden menjadi buah bibir alias pembicaraan bukan hanya bagi warga Amerika Serikat. Masyarakat Indonesia pun juga banyak memperbincangkannya terutama nampak dalam group-group whatsapp. Umumnya yang dibicarakan adalah biografi atau pun profile Joe Biden yang ternyata memiliki masa lalu yang cukup berat dan berliku hingga akhirnya menang sebagai presiden AS terpilih. Joe Bidden akan dilantik pada Januari 2021 nanti sebagai presiden AS ke-46 dalam usia 78 tahun dan menjadi presiden tertua sepanjang sejarah AS. Perjalanan karier politiknya sampai pada titik itu bisa menjelaskan perumpamaan tentang talenta dalam bacaan Injil Matius 25:14-30. Joe adalah hamba yang baik dan setia yang mengelola dan mengembangkan talenta yang dipercayakan padanya.
Perumpamaan tentang talenta menggambarkan bahwa hidup ini adalah karunia (ay.15). Namun, anugerah Tuhan itu harus membangkitkan kesungguhan dalam diri kita sehingga tidak bermain-main dengan kebaikan Allah. Tuan dalam perumpamaan ini mempercayakan (Yun. Paredoken) talenta kepada masing-masing hambanya. Tiap orang mendapat jumlah talenta berbeda-beda sesuai kesanggupannya. Ternyata tidak semua yang menerima kesempatan berharga itu sungguh menghargainya. Perumpamaan ini menegaskan bahwa orang harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab dan kelak Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban tiap orang. Tuhan menghargai hamba yang berjerih lelah dan memberi apresiasi bagi hambanya yang bisa dipercaya. Namun Ia murka pada hamba yang malas dan lalai. Pahala diberikan kepada yang mau mengembangkan talenta, penderitaan akan menjadi bagian bagi yang malas.
Setiap orang Kristen yang telah dipercayakan 'talenta' seharusnya memakai talenta yang ada padanya untuk berkarya bagi Kerajaan Surga. Joe Biden menyadari itu dan berkomitmen untuk menjadi presiden AS yang melayani. Hal ini terungkap dalam pidato kemenangannya. Ia mengatakan: “... Saya berjanji untuk menjadi presiden yang mempersatukan bangsa. Saya akan melayani segenap rakyat, baik yang memilih maupun yang tidak memilihku.”. Hal ini menunjukkan dedikasi dan motivasinya ketika akan memimpin AS sebagai sebuah kepercayaan dari Tuhan. Mari kita turut mendoakannya.
Lalu bagaimana dengan diri kita, talenta apa yang Tuhan percayakan kepada kita saat ini? Sikap dan motivasi seperti apa yang kita lakukan dalam mengelola talenta tersebut? Siapkah kita ketika Tuan sang empunya talenta datang meminta pertanggungjawaban? Setiap kita bisa jadi memiliki peran dan jabatan di dalam pelayanan, pekerjaan bahkan dalam kehidupan di tengah masyarakat, berbangsa dan negara. Mari kita menjadi seperti hamba yang baik dan setia yang mengembangkan talenta yang dipercayakan dan membuat senang Tuan sang empunya talenta. Tuhan menolong kita senantiasa.
(Pdt. Adi Cahyono)







