Semua orang berhak untuk bahagia! Demikian pernyataan yang tentunya disetujui oleh setiap orang. Persoalannya, kebahagiaan seperti apa yang diinginkan atau diharapkan? Selain itu, kalau berbicara tentang hak berarti tidak bisa lepas dengan kewajiban yang mesti dilakukan sebelum menuntut yang menjadi haknya. Jadi siapakah dan bagaimanakah orang yang berbahagia itu?
Tuhan Yesus yang penuh belas kasih mengundang setiap orang untuk berbahagia. Kebahagiaan yang diajarkan Yesus dalam bacaan Injil Matius 5:1-12 memiliki nilai religious yang sering disebut sebagai Delapan Sabda Bahagia. Kebahagiaan menurut Yesus itu berbeda dengan kebahagiaan menurut ukuran manusia atau dunia. Makna utama kata “berbahagialah” (Yun: Makarios) yaitu: diberkatilah atau terberkatilah. Kebahagiaan bagi orang yang terberkati bukan hanya saat mendapatkan sesuatu yang diinginkan, melainkan selalu merasa ada berkat Tuhan yang bisa disyukuri. Bahkan orang tetap dapat berbahagia saat dibenci, dicela, dikucilkan, dianiaya sebagai pengikut Kristus. Jadi seseorang yang merasa hidupnya terberkati oleh Tuhan, mestinya hidupnya bahagia dalam situasi dan kondisi apapun.
Dengan demikian bagi Yesus semua orang layak untuk berbahagia. Ia mengundang kita untuk merasakan dan merayakannya. Kebahagiaan tersebut mensyaratkan tiga hal: yaitu masa kini, masa yang akan datang dan bertumpu kepada-Nya. Kebahagiaan di masa kini terjadi ketika kita mampu menerima semua kenyataan hidup. Kebahagiaan di masa mendatang terjadi karena ada harapan. Ketiga, semuanya itu dapat terjadi saat kita bertumpu pada Yesus.
Hidup yang tidak berbahagia menjadikan semua hal yang dijalani menjadi beban yang terasa berat menindih dan menekan. Jika tidak dihadapi atau tidak ada pertolongan dengan tepat, maka tekanan dalam diri seseorang dapat dilimpahkan pada yang lain termasuk orang-orang di sekitar sehingga turut menjadi korban. Oleh sebab itu, apapun situasi dan keadaan kita mari kita terus bersyukur sehingga dapat merasakan berkat-berkat-Nya. Harapannya kita bisa terus berbahagia dan menjadi sumber pancaran kebahagiaan di sekitar kita dan bagi setiap orang yang kita jumpai. Mari terus berbahagia. Tuhan beserta kita senantiasa.
- Pdt. Adi Cahyono -







