Bacaan I : Kisah Para Rasul 2:14a, 36-41
Mazmur Tanggapan: Mazmur 116:1-4, 12-19
Bacaan II : 1 Petrus 1: 17-23
Bacaan Injil : Lukas 24:13-35
Dalam kehidupan yang niscaya menemui ketidakpastian, suasana hidup seperti dua murid yang menuju ke Emaus ini kerap dialami tidak sedikit orang. Perjalanan hidup ditempuh tertatih oleh harapan yang patah dan iman yang meredup. Pikiran penuh gagasan idealisme diri yang egosentris, hati tertutup, dan langkah menjauh dari pusat pengharapan. Acap kali terjadi pada orang percaya mengalami kehampaan meskipun sedang beribadah.
Namun demikian, dalam perjalanan yang sedemikian, Kristus yang bangkit hadir. Bukan dengan keajaiban hebat, melainkan dengan menjadi teman seperjalanan dan sapaan sederhana. Kristus bertutur dan menjelaskan firman. Kristus memecahkan roti. Saat hati disentuh firman, ada keajaiban anugerah dalam pertolongan Roh Kudus. Harapan hidup kembali menyala dan terarah benar tertuju kepada Allah, tidak lagi pada frustasi dan egosentrisme.
Salah satu contoh nyata keajaiban itu adalah saat Petrus berkhotbah dan menjelaskan firman. Petrus menjumpai orang banyak yang kemudian hatinya merasa tersayat-sayat. Mereka bertanya, "Apa yang harus kami perbuat?"
Inilah kekuatan firman yang menyentuh. Firman Allah sanggup membongkar kekerasan hati, membangkitkan pertobatan, dan membuka jalan bagi Roh Kudus untuk mengarahkan ulang kehidupan. Pertobatan yang terjadi tidak hanya berisi penyesalan, tetapi juga perubahan arah menuju kasih, persekutuan, dan kesetiaan hidup sebagai umat Allah.
Firman yang menyentuh dan pertobatan yang tulus tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Kasih adalah buah sejati dari umat yang telah disentuh dan ditebus. Panggilannya jelas. Hidup dalam kasih yang sungguh. Perenungannya: apakah hati masih terbuka untuk disentuh oleh firman? Apakah pertobatan telah nyata mengubah arah hidup? Sudahkah kasih menjadi cara hidup yang memperbarui lingkungan sekitar?
(Disadur dari Buku Dian Penuntun Edisi 41)







