Dalam perjalanan kehidupan di dunia ini, setiap orang bisa merasakan lelah fisik, pikiran, kejiwaan/mental bahkan batin atau spiritual karena banyaknya tanggung jawab yang dipikul dan tugas yang harus dikerjakan. Kelelahan itu bila tidak dikelola dengan baik bisa menjadi kepenatan bahkan bisa mengalami burn out alias kehilangan semangat dan arah hidup. Apalagi kalau mengalami situasi “buntu” yang berkepanjangan atau kegagalan berulang-ulang, maka bukan tidak mungkin orang bisa menjadi putus asa dan tidak ingin melanjutkan hidupnya.
Pada minggu prapaskah III kali ini, bacaan Injil Yohanes bercerita tentang percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria yang mengalami kepenatan dan kegagalan beberapa kali dalam pernikahannya. Perempuan tersebut datang ke sumur Yakub untuk menimba air minum, namun Tuhan Yesus menawarkan air hidup kepadanya (ay. 10). Yesus ingin perempuan itu menyadari adanya kebutuhan rohani yang harus dipenuhi. Dan kebutuhan itu hanya bisa dipuaskan oleh Allah, yang penuh dengan kasih karunia. Air minum hanya melepaskan kehausan sementara sehingga harus diminum terus-menerus. Sedangkan air hidup yang ditawarkan Yesus akan menyegarkan jiwa, sekali diminum akan menjadi mata air yang memancar di kedalaman hati selama-lamanya (ay. 14).
Tawaran Tuhan Yesus kepada perempuan Samaria ini merupakan tawaran kasih Allah yang diungkapkan kepada semua orang, tanpa membedakan suku, gender dan status. Selain termasuk suku Samaria yang dibenci orang Yahudi, statusnya sebagai perempuan adalah rendah di mata orang Yahudi. Apalagi seorang perempuan yang tidak terhormat berbicara dengan seorang Rabi/Guru (ay.27), namun Yesus menjangkau dan memulihkannya. Perempuan Samaria yang sudah merasakan air hidup itu akhirnya bersukacita lalu mewartakan tentang Yesus sehingga semakin banyak orang dimenangkan dan menjadi percaya kepada Yesus sebagai Mesias (ay.41-42).
Seperti perempuan Samaria itu, kita sebagai orang-orang zaman sekarang ini pun memiliki banyak dahaga hidup yang coba diatasi dengan berbagai cara. Traveling, healing, hangout, seringkali menjadi sarana untuk mendapatkannya. Namun pengalaman menyatakan bahwa tidak ada hal apapun yang sungguh dapat mengisi kekosongan atau kehampaan dalam hidup kita, apalagi dengan perbuatan dosa. Hanya Tuhan Yesus, sumber air hidup dan pemuas kebutuhan hidup terdalam yang dapat mengisi dan memberi arti bagi hidup ini. Mari terus terarah kepada kasih Yesus dan mengizinkan Dia mengisi serta menuntun langkah hidup kita.
Di masa prapaskah ini menjadi saat yang sangat tepat untuk kita semakin mendekat kepada Tuhan dan merasakan air hidup sehingga kita benar-benar disegarkan dan diubahkan oleh kuasa-Nya. Melalui doa, puasa, ibadah dan sedekah, kiranya membuat kita merasakan karunia Tuhan yang memberikan damai dan sejahtera serta membuat hidup kita semakin bermakna karena bisa menjadi berkat bagi sesama. Soli Deo Gloria.
- Pdt. Adi Cahyono -







