Dalam kalender gerejawi, minggu ini adalah penghayatan peristiwa Yesus dibaptis. Pembaptisan Yesus merupakan peristiwa di mana Yesus Kristus datang kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptiskan dan menjadi tanda permulaan pelayanan-Nya. Peristiwa ini dicatat di keempat Injil (Matius 3:13-17; Markus 1:9-11; Lukas 3:21-22; Yohanes1:32-34). Baptis biasanya dipahami sebagai ritual pemurnian atau penyucian dari dosa dengan menggunakan air. Menjelang pelayanan- Nya, Yesus memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Di sini muncul pertanyaan, jika baptis melambangkan penyucian dari dosa, apakah dengan memberi diri dibaptis, Yesus menunjukkan bahwa Dia berdosa?
Dalam Markus 1:4-11 diceritakan bahwa ada Yohanes Pembaptis di sungai Yordan yang mengajak orang untuk percaya kepada Allah dan membaptiskan mereka di sungai tersebut. Yesus pun lalu dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis, meskipun semula Yohanes merasa tidak layak karena ia tahu bahwa Yesus adalah Tuhan. Pada saat dibaptis Roh Kudus turun ke atas Yesus dalam rupa burung merpati dan terdengar suara dari surga yang mengatakan bahwa “Engkau Anak yang kukasihi, kepadamulah Aku berkenan” (ay.10-11).
Seorang teolog bernama Deane Bergant menuliskan pandangannya bahwa pembaptisan Yesus yang dilakukan Yohanes di sungai Yordan bukanlah baptisan pertobatan, melainkan tanda pengurapan-Nya sebagai Mesias. Jadi, fokus utama dari peristiwa pembaptisan Yesus adalah pengumuman diri-Nya sebagai Mesias yang diurapi dan diperkenan Allah. Selain itu, peristiwa baptisan Yesus menjadi pengingat bagi kita betapa kesatuan relasi Trinitas menjadi relasi yang terbuka bagi ciptaanNya. Sang Bapa menyatakan cinta dan kesatuan-Nya kepada Anak di dalam kuasa Roh Kudus. Dan di saat yang sama Allah mengajak kita ikut ambil bagian di dalamnya dengan menerima undangan pertobatan dan hidup dengan ketaatan kepada Anak yang melakukan kehendak Bapa dalam berkat Roh Kudus.
Dengan demikian kita harus memahami bahwa Yesus Kristus dibaptis sebagai peneguhan bahwa diri-Nya adalah Mesias yang diperkenan Allah; sedangkan kita orang percaya dibaptis selain sebagai lambang pertobatan juga sebagai tanda memasuki persekutuan dengan Dia. Artinya saat orang percaya menjalani pembaptisan merupakan ungkapan lahiriah, suatu pengakuan iman bahwa kita menyambut Yesus Kristus sebagai Mesias. Melalui baptisan, kita memasuki kehidupan baru di dalam persekutuan dengan Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Maka kualitas hidup kita sebagai orang yang dikasihi dan berkenan kepada Allah nampak saat kita memiliki solidaritas seperti Kristus yang peduli dan mau merengkuh kepada orang yang lemah dan berdosa serta rela berkurban.
- Pdt. Adi Cahyono -







