Dalam lirik lagu berjudul "Runtuh" yang dinyanyikan oleh Feby Putri dan Fiersa Bersari, ada penggalan lirik yang bertuliskan, "kita adalah manusia yang terluka". Penggalan lirik itu menandakan bahwa setiap orang pasti pernah merasa terluka di dalam hati. Luka karena ditolak, disalahpahami, dikhianati oleh teman, rekan sekerja, bahkan mungkin oleh orang-orang yang paling dekat, yaitu keluarga. Luka itu bisa sangat menyakitkan karena ia diam-diam menetap, menyelinap, dan menggerogoti hidup dalam sekejap.
Banyak tokoh dalam Alkitab yang mengalami keterlukaan, satu di antaranya adalah Yusuf. Pada masa mudanya, Yusuf telah bertubi-tubi mengalami keterlukaan. Ia yang mengalami keterlukaan paling dalam karena dijual oleh saudara-saudaranya, tetapi pada akhir kisahnya, bukan balas dendam yang ia berikan, melainkan sebuah pelukan yang di dalamnya berlimpah pengampunan. Pada titik ini, Yusuf menampakkan semangat rekonsiliatif. Menariknya, bagaimana mungkin luka yang begitu dalam berubah menjadi pelukan yang begitu hangat?
Pada Minggu Biasa Keduapuluh ini, umat diajak untuk menyusuri kelanjutan kisah Yusuf dalam bacaan Kejadian 45:1-15 dan Mazmur 133. Melalui kisah Yusuf, umat akan belajar bagaimana mengubah rasa sakit menjadi kasih yang menyembuhkan. Awalnya terluka, berubah jadi pembawa cinta.
Disadur dari Buku Dian Penuntun Edisi 42







