Digerai sebuah toko dijajarkan buah anggur sedang ada harga khusus, begitu menggiurkan sekali. Maka saya membelinya kelihatannya sih enak dan manis. Pas dirumah ternyata asam. Yaghh mengecewakan!.
Bapak ibu pernah punya pengalaman membeli buah dan dipromosikan manis ternyata pas dimakan asam, bisa ditebak pasti jadi kecewa, sebagai konsumen kita menjadi kecewa, bagaimana bila menjadi petaninya. Bila hasil ladangnya ternyata tidak sesuai. Berharap tanaman bisa berbuah dengan lebat ternyata daunnya yang tumbuh dengan lebat buahnya tidak ada. Berharap Kecewa, sedih dan marah jadinya.
Pembacaan kita minggu ini berkaitan dengan rasa kecewa. Rasa kecewa dari sang pemilik tanah atau ladang. Sang pemilik yang memberikan pengelolaan kepada penyewa untuk mengarap dan mengelola tanah garapan menjadi kebun anggur yang bagus dan mengharapkan buah-buah anggur yang banyak dan manis. Sang pemilik kebun anggur sudah membangun pagar untuk melindungi kebun anggur, sudah membangun menara perlindungan sudah membangun tempat pemeras anggur, semua sudah dipersiapkan dengan sangat baik sehingga penyewa akan jauh lebih muda untuk menggarap kebun anggurnya. Namun tidak dapat disangka harapan mendapatkan hasil panen yang bagus dari para penggarap menjadi pil pahit. Pemilik adalah orang yang sangat jahat dimana hasil garapan kebun anggur tidak pernah diberikan, bahkan membunuh setiap hamba yang diutus pemilik kebun anggur bahkan anak pemilik kebun anggur sendiri dibunuh oleh para penggarap. Ironis sekali nasib pemilik kebun anggur. Pemilik kebun anggur menjadi patah hati, sedih tak terkira dan murka terhadap perilaku para penggarap sehingga sang pemilik mengusir dan menggantikan penggarapan kepada penyewa lainnya.
Kisah kebun anggur dan para penggarap yang kejam ini adalah gambaran dari perumpamaan yang berkaitan dengan relasi antara Tuhan Allah dan orang-orang kepercayaan Tuhan Allah. Sang Pemilik adalah Tuhan Allah sendiri, para penggarap adalah kita, anak sang pemilik adalah Tuhan Yesus dan kebun anggurnya adalah dunia atau gereja. Dalam bulan keluarga kita diingatkan perumpamaan kebun anggur dalam keluarga kita dimana kebun anggurnya adalah keluarga kita khususnya anak-anak kita, pengelolanya adalah orang tua atau oma-opa yang telah dipercayakan untuk menggarap kebun anggur kita yaitu anak-anak kita. Tuhan Allah sudah memberikan dan membangun semua fasilitas yang menunjang untuk menggarap kebun anggur-Nya, namun apakah kita adalah para penggarap yang setia dan baik? Kita diingatkan untuk menggarap kebun anggur kita dengan baik, penuh kasih sehingga buah yang dihasilkan akan bagus dan manis melalui didikan, perilaku dan teladan hidup dari para orang tua dan orang-orang dewasa. Oleh karena itu sayangilah dan didiklah setiap anak-anak dengan penuh kasih bukan tindakan kekerasan, tegurlah dengan sabar bukan dengan makian atau pukulan, pandanglah setiap anak didalam hidup kita sebagai anugerah kepercayaan Allah bukan sebagai objek sasaran emosi kita. Agar dari keluarga kita akan dihasilkan buah-buah yang manis, buah yang menyegarkan dan menyehatkan kehidupan. Amin. Solagracia.
- Pdt. Ima.F. Simamora -







