Pandemi virus corona di tahun 2020 ini tentunya telah merubah banyak rencana yang sudah disusun bahkan sangat kacau dan berantakan. Memang semua rencana manusia bisa berubah. Oleh sebab itu kita mesti menjadi lebih bijaksana dan antisipatif dalam mempersiapkan kehidupan di masa mendatang. Utamanya berpikir dan mempersiapkan tentang hidup dalam kekekalan agar kita tetap hidup sesuai dengan rencana dan maksud Allah di dunia ini.
Bacaan Injil Matius 25:1-13 merupakan rangkaian khotbah perpisahan Yesus yang sarat dengan peringatan. Dalam pasal ini disampaikan tiga perumpamaan, yang tujuannya sama, yakni untuk mendorong kita semua agar lebih bersungguhsungguh dan rajin mempersiapkan diri dalam menyongsong kedatangan Kristus yang kedua kali. Pesan utama khotbah tersebut adalah berjaga-jagalah dan bersiap sedialah untuk menyambut kedatangan Kristus.
Digambarkan dalam perumpamaan yang pertama, mempelai laki- laki akan datang pada waktu yang tidak disangka-sangka. Mempelai laki-laki menuntut gadis-gadis telah siap sedia kapan saja dengan perlengkapan lengkap agar sewaktu-waktu ia datang, para gadis segera menyambutnya dapat pergi bersama dia masuk ke perjamuan kawin. Gadis-gadis harus tahu apa yang harus dilakukan untuk mempersiapkan dan memperlengkapi dirinya dengan baik dan penuh tanggung jawab. Meski waktu kedatangan sang mempelai laki-laki tidak diketahui, gadis-gadis itu harus terus berjagajaga dan siap siaga. Bagi gadis-gadis yang bodoh, tidak memiliki pertimbangan tentang apa yang akan terjadi dan juga tidak memikirkan masa depan. Mereka membawa pelita hanya untuk dipamerkan pada saat sekarang, tetapi tidak membawa minyak sebagai persediaan. Semua perhatian mereka hanya tertuju untuk memuji diri sendiri dan bukan untuk membuat diri mereka berkenan di hadapan Kristus yang akan muncul di hadapan mereka dalam kekekalan.
Perumpamaan ini mengajarkan tentang apa yang terjadi saat Tuhan Yesus datang kembali menjemput murid-murid untuk dibawa masuk kedalam kemuliaanNya. Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai mempelai laki-laki yang kedatangan-Nya terjadi secara tiba-tiba. Ia hanya akan membawa gadis-gadis yakni jemaat-Nya yang siap sedia. Bagi yang tidak mempersiapkan diri tidak ada kesempatan untuk berbenah. Segera pintu ruang perjamuan ditutup dan tidak akan dibuka kembali. Oleh sebab itu sebagai jemaat-Nya kita harus hidup sesuai dengan petunjuk firman-Nya, menaati perintah-Nya, dan setia menantikan kedatang-Nya dalam kewaspadaan penuh.
Bersikap dan berperilaku seperti gadis-gadis-gadis bijaksana adalah tanggung jawab setiap orang Kristen. Mari kita hidup sebagai 'mempelai perempuan' yang siap sedia, seolah-olah sang mempelai laki-laki akan datang pada hari ini. Untuk itu kita perlu mempersiapkan dan memperlengkapi diri. Hati dan pikiran, tindakan dan perbuatan kita hendaknya diarahkan pada menyambut hari kedatangan-Nya, sehingga kita siap kapan saja dijemput dan dibawa masuk ke pesta perjamuan. Kiranya Tuhan terus menolong kita.
(Pdt. Adi Cahyono)







