Bacaan I : Yesaya 7:10-16
Mazmur Tanggapan: Mazmur 80:1-7, 17-19
Bacaan II : Roma 1:1-7
Bacaan Injil : Matius 1:18-25
Manusia adalah makhluk yang dianugerahkan akal pikiran, sebab dalam hidupnya ia perlu melakukan antisipasi, mengatur strategi, memilih hal-hal yang tidak menyulitkan hidup, dan lain-lain. Banyak hal tercipta di dunia karena manusia menggunakan akal pikirannya. Saking hebatnya akal manusia, manusia sangat mengandalkannya. Namun, pikiran manusia juga bersifat terbatas. Banyak pekerjaan Tuhan dalam hidup manusia yang tak tertangkap akalnya. Ada banyak ketidaktahuan yang di dalamnya Allah bisa bekerja.
Banyak orang menghindar dari panggilan Allah karena menggunakan pikirannya bukan pikiran Allah. Yunus lari dari pengutusan Allah karena berpikir Niniwe sudah keterlaluan, Raja Ahas menolak pertimbangan Tuhan karena berpikir perlu dukungan bangsa yang besar, Musa begitu panjang bernegosiasi dengan Tuhan saat diutus karena berpikir dirinya tidak memiliki kemampuan. Hal ini menunjukkan bahwa ada begitu banyak karya Tuhan yang hanya dapat dinyatakan ketika manusia bersedia berjarak dengan pikirannya dan tidak dikuasai olehnya. Kondisi itu juga terjadi pada masa kini. Ketika muncul dorongan Roh Kudus dalam hati untuk menyatakan kebenaran atau untuk mengubah hidup, tetapi kita diperhadapkan pada proses dan konsekuensi yang tidak mudah, maka tantangan terbesar manusia beriman bukanlah apa yang terjadi di luar dirinya, melainkan bagaimana ia dapat memberi jarak dengan pikirannya dan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.
Berjalan di dalam rancangan Allah membutuhkan keberanian untuk percaya pada karya Roh-Nya, untuk terlibat dalam rancangan yang barangkali bagi pikiran kita mustahil dilakukan. Kedatangan Yesus ke dunia merupakan keajaiban kasih Allah yang hadir bagi manusia, sekaligus kesediaan orang-orang sederhana sederhana yang mau berjarak dari pikirannya untuk dapat menerima panggilan Ilahi. Mereka yang bukan hanya percaya dalam pengetahuannya bahwa Allah Mahakuasa, tetapi berani memercayakan pilihan hidupnya untuk mengikuti jalan yang la tunjukkan, sekalipun ujung jalan tak tampak jelas dan penuh misteri.
(Disadur dari Buku Dian Penuntun Edisi 40)








