Majelis Jemaat

Rayon

Komisi

Kelompok Kerja

Perubahan peraturan/kebijakan di masa pandemi bisa terjadi dalam hitungan hari. Hal itu dilakukan karena situasi dan keadaan bisa berubah setiap saat. Ketidak-siapan menerima hal itu menjadikan orang uring-uringan bahkan frustasi. Bersungut-sungut atau mengeraskan hati dengan tidak mentaati aturan menjadi bentuk ekspresinya. Sayangnya persekusi dan intimidasi menjadi salah satu solusi untuk menertibkan masyarakat. Lebih ironis lagi ada yang dilakukan untuk mencari keuntungan diri sendiri.

Pada zaman Yesus, adat istiadat masih sangat kuat diberlakukan. Tradisi najis dan tidak najis sangat kuat dianut oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka mengintimidasi murid-murid Yesus yang makan dengan tanpa cuci tangan terlebih dahulu sebagaimana adat istiadat nenek moyang mereka (ay.1-5). Sebenarnya, ada motif terselubung dibalik kedatangan mereka dari Yerusalem ke tempat Yesus. Mereka datang untuk mencari kesalahan Yesus. Karena itu Yesus secara keras menegur mereka. Demi kemunafikan, mereka rela mengabaikan perintah Allah (ay.6-8). Selain itu, orang-orang Yahudi tsb juga mengabaikan pemeliharaan terhadap orangtuanya. Mereka berpikir kalau sudah mempersembahkan kurban kepada Allah, maka tidak perlu memerhatikan orangtuanya (ay.9-13). Mereka menggantikan kemurnian moral dengan hal-hal seremonial. Yesus menjelaskan bahwa makanan yang masuk dari luar tidak mencemari hati. Kenajisan sesungguhnya terdapat di hati yang dikeluarkan melalui perkataan dan tindakan jahat (ay.14-23).

Ternyata Tuhan Yesus membawa ajaran yang memerdekakan manusia dari keterikatan hukum Taurat yang dipraktikkan secara keliru. Menurut Yesus adalah kemunafikan ketika seseorang terlihat beribadah kepada Allah, tetapi memegang ajaran manusia. Adat istiadat dan tradisi seharusnya didasarkan pada Firman Allah karena kebenaran TUHAN jauh melampaui tradisi dan adat istiadat manusia. Bagi Yesus, ada yang jauh lebih utama dari sekadar melaksanakan aturan-aturan adat istiadat atau agama, yaitu tindakan nyata mengasihi sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi dan adat istiadat tidak salah seluruhnya, aturan-aturan adat istiadat dan agama bukan tidak penting, selama didasarkan pada kebenaran firman Tuhan, dipahami dan dipraktikkan dengan motivasi yang benar karena mengasihi Allah dan demi kebaikan sesama manusia. Untuk setiap aturan agama dan adat istiadat di sekitar kita yang tidak memanusiakan manusia yang telah ditebus oleh Kristus kita harus berani menolaknya. Misalnya, aturan yang membedakan umat berdasarkan status sosialnya, sukunya, dan gendernya tentu tidak berdasar pada firman Tuhan. Aturan-aturan itu justru menjauhkan orang dari Tuhan dan dengan sendirinya yang mempraktikkan aturan tersebut telah menajiskan dirinya sendiri di hadapan Allah.

Demikian pula dengan pemberlakuan peraturan-peraturan di masa PPKM (Misal: 5M), semestinya diterapkan dengan pendekatan kemanusiaan bukan untuk menghakimi. Itulah contoh sikap iman yang benar dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya semakin banyak orang yang tersadarkan untuk mewujudkan kehidupan bersama yang lebih baik. Tuhan memberkati.

 

(Pdt. Adi Cahyono)

Komunitasku, Keluargaku: Bersama, Bertumbuh, dan Berdampak

Sub Tema Tahun Pelayanan 2026 - 2027

Jadwal Kebaktian

Sekolah Minggu :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Remaja :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Pemuda :
Minggu Pukul 11.00 WIB

Kebaktian Lansia :
Jumat Pukul 10.00 WIB

Kebaktian Umum : 
Minggu Pukul 06.30 WIB
Minggu Pukul 09.00 WIB (Hybrid)
Minggu Pukul 17.00 WIB

Facebook GKI Delima

Download Warta Jemaat

 

Download Liturgi Kebaktian