“Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu.”
- John Fitzgerald Kennedy -
Quote yang terkenal dari presiden John F. Kennedy ini namun kutipan ini berasal dari filsuf Marcus Tullius Cicero, orator dan negarawan Romawi Kuno. Pada masa itu doktrin terhadap cinta akan Negara menjadi isu yang hangat dan strategi untuk mendukung kerajaan Romawi untuk mendapatkan prajurit-prajurit yang mau berperang demi kerajaan Roma. Sehingga kalimat ini mengobarkan semangat untuk mau berkorban dan membela kerajaan Romawi (baca:https://www.kompasiana.com/petraelang/54f9614fa33311b6078b 4dec/jangan-tanyakan-apa-yang-negara-berikan-kepadamu-tapi-tanyakanapa-yang-kamu-berikan-kepada-negaramu Kreator: Petra Elang).
Kalimat ini bisa menjadi refleksi kita dalam hubungan kita dengan Tuhan Allah dan negara. Dalam pembacaan kitab Injil disana dengan jelas terjadi percakapan antara orangorang Farisi dengan Tuhan Yesus ketika oang Farisi bertanya kepada Tuhan Yesus berkaitan pajak namun Tuhan Yesus tahu isi hati orang-orang Farisi. Tuhan Yesus menjawab: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" 22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Jawaban Tuhan Yesus ini merujuk kepada tanggungjawab dalam kehidupan baik sebagai warga negara dan kepada Allah sebagai umat Allah. Sebagai warga negara maka orang-orang Farisi bertanggungjawab untuk membayar pajaknya kepada Kaisar sekalipun mereka adalah pemuka umat. Begitu juga sebagai umat Allah. Kita punya gambaran yang harus kita ikuti dan memberikan yang terbaik yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26) atau imago Dei. Jikalau kepada kaisar orangorang Farisi membayar pajak maka kepada Allah memberikan seluruh hidup sebagai persembahan sejati (Roma 12:1). Persembahan hidup dalam waktu, keaktifan dan materi dalam keseharian kita. Persembahan yang tercermin dalam kehidupan keluarga, kehidupan keluarga yang didalam kesehariannya menampilkan wajah keluarga yang mengenal Allah bukan dalam status saja tetapi tercermin dalam keseharian. Keluarga yang penuh kasih, ibadah keluarga dan pelayanan. Persembahan hidup juga tercermin dalam kehidupan gerejawi baik dalam pelayanan, persembahan dan keaktifan. Hidup dan berkat yang kita miliki adalah media persembahan yang terbaik bagi Allah. Jikalau kepada negara kita begitu patuh dan bersedia untuk membayar pajak, bagaimana dengan Allah ? sudahkah yang terbaik kita berikan? -Solagracia-
- Pdt. Ima.F. Simamora -








