Majelis Jemaat

Rayon

Komisi

Kelompok Kerja

Masa prapaskah adalah masa untuk bertobat dan berbalik pada Allah. Pertobatan tak cukup berhenti sebagai sebagai penyesalan yang ritual dan formal saja, melainkan kesediaan untuk mengarahkan diri kembali kepada kehendak Allah.

Di Minggu Prapaskah yang ketiga ini umat dipanggil untuk menyadari “kemandulan” hidupnya, lalu menjawab undangan untuk kembali kepada Tuhan agar mendapat daya baru untuk menunaikan tugas mentransformasi kehidupan. Kemandulan hidup nyata ketika kasih Allah belum menggerakan untuk lebih mengasihi sesama dan alam, belum membawa kita pada hidup yang mendatangkan damai sejahtera, belum menggerakkan kita pada karya keadilan, belum mendorong kita untuk bersikap jujur dan bertindak benar di hadapan Allah dan sesama.

Cinta kepada Allah seharusnya membuat kita makin inklusif, terbuka terhadap perubahan, namun nyatanya iman kita masih saja bermuara pada eksklusivitas, ketertutupan, kepura-puraan dan terlalu sibuk menilai dan mengkritisi pihak lain, tanpa sadar bahwa sesungguhnya kita juga tak kalah bejat dari mereka yang kita pandang sebelah mata. Dalam konteks yang demikian bacaan leksionari kita menggemakan sebuah kegentingan untuk segera menyadari bahwa kasih karunia Allah hanya akan secara penuh kita terima ketika kita mengubah hati dan hidup kita agar tertuju kepada Allah dan sesama.

Dalam Lukas 13:1-9 Yesus menggunakan sebuah kiasan yang menggambarkan tentang seorang yang mempunyai pohon ara (yang telah tiga tahun tumbuh) di kebun anggurnya, ia datang mencari buahnya, tetapi tidak menemukannya, maka ia meminta sang pengurus kebun anggur menebangnya. Pohon ara merupakan tanaman yang sangat adaptif yang bisa hidup di lahan-lahan yang tidak subur sekalipun. Tetapi karena pohon ara yang ada di lahan subur itu tidak menghasilkan buah selama 3 tahun, maka sungguh sangat aneh. Ini bisa diartikan sebagai seorang yang tumbuh di lingkungan yang baik, di dalam kehidupan yang berlimpah dengan anugerah, namun tidak juga menghasilkan apa-apa. Permintaan untuk menebang pohon tersebut menunjukkan batas kesabaran si pemilik kebun yang telah menanti selama tiga tahun (ay. 7). Melalui perumpamaan tersebut, Tuhan Yesus juga mau menjelaskan bahwa kesempatan untuk bertobat masih diberikan. Ketika pohon ara yang tumbuh selama tiga tahun ternyata tidak menghasilkan apa-apa, namun pengurus kebun masih memohon kepada tuannya untuk bersabar menantikan pohon tersebut berbuah. Penggunaan kata "mungkin" (ay.9) menunjukkan adanya harapan dan kesempatan lagi.

Dengan kiasan tersebut, kita diajak untuk menyadari bahwa anugerah tiada batas yang dari atas itu ditempatkan Allah dalam kerangka waktu kehidupan kita yang terbatas. Kita didorong untuk menggunakan kesempatan berbalik di tengah situasi yang pelik dan dengan demikian akan terhindarkan hidup kita dari kehampaan, bahkan kebinasaan hidup.

Mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar bertobat? Kristus masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat, yang mungkin merupakan kesempatan kesekian kalinya yang diberikan pada kita. Oleh karena itu, jangan tunda lagi. Sebab jika kita masih menutup rapat pintu hati kita untuk pertobatan maka mungkin Tuhan akan mencampakkan kita ke dalam api. Marilah melalui Aksi Puasa Paskah, yaitu berpuasa dan berpantang atau mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, kita dapat mengurangi keserakahan dan mewujudkan kepedulian kepada sesama yang membutuhkan. Itulah buah-buah yang dikehendaki Allah.

Pdt. Adi Cahyono, M.Si
(disarikan dari Dian Penuntun)

Gereja yang Menjadi Berkat Bagi Sesama

Sub Tema Tahun Pelayanan 2016 - 2017

Jadwal Kebaktian

Sekolah Minggu :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Remaja :
Minggu Pukul 09.00 WIB

Kebaktian Pemuda :
Minggu Pukul 11.00 WIB

Kebaktian Lansia :
Jumat Pukul 10.00 WIB

Kebaktian Umum : 
1. Minggu Pukul 06.30 WIB
2. Minggu Pukul 09.00 WIB
3. Minggu Pukul 17.00 WIB

 

Facebook GKI Delima

 

Download Warta Jemaat

 

Download Liturgi Kebaktian