Apakah hidup Anda sudah bahagia? Apakah Anda yakin bahwa Tuhan hadir serta menyertai Anda dan hidup Anda saat ini adalah hidup di dalam kehendak-Nya? Yesus datang ke dunia untuk membawa kebahagiaan sejati kepada umat-Nya. Namun, kebahagiaan macam apa yang Yesus berikan?
Dalam bacaan Injil Lukas 6:17-26, dikisahkan banyak orang yang telah melihat kehebatan Yesus dalam hal menyembuhkan sakit penyakit, mengusir roh jahat, dsb. Mereka yang datang kepada Yesus umumnya untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Namun, pada saat itu Yesus menunjukkan kepada mereka hal yang lebih fundamental tentang kebahagiaan dalam hidup.
Yesus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada kesehatan, kelepasan dari tekanan mental, atau pun kelepasan dari berbagai persoalan terkait kebutuhan hidup sehari-hari. Kebahagiaan sejati adalah mengenal Allah dan kehendak-Nya, serta hidup di dalam ketaatan melakukan kehendak-Nya (ay. 20-23). Kemiskinan, kelaparan, dukacita karena dibenci dan ditolak, dan disalahmengerti, bahkan sampai kematian sekali pun tidak dapat menghilangkan sukacita kita ketika mengetahui bahwa kita dikasihi Tuhan.
Sebaliknya, seseorang boleh saja memiliki kekayaan, perut yang kenyang dan bisa tertawa puas karena puji-pujian palsu. Semua itu tidak akan menjadikannya berbahagia. Sesungguhnya, Tuhan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang nestapa, karena mereka tidak akan bisa menikmati kekayaannya, mereka akan kelaparan, berduka dan menangis dan mendapatkan pujian hampa yang tidak memberi mereka apa-apa. Melalui kata-kata Yesus, kita diajak untuk melihat makna sejati dari kebahagiaan, bukan berdasarkan standar duniawi, melainkan berdasarkan perspektif ilahi.
Dengan kata lain kebahagiaan sejati bukan terletak pada kekayaan, popularitas, atau kesenangan duniawi, tetapi dalam hubungan yang dekat dengan Allah dan dalam menjalani kehidupan yang penuh kasih, belas kasihan, dan kemurahan hati. Kebahagiaan yang sejati adalah ketika seseorang dapat menikmati hidup yang Tuhan berikan saat ini dengan suatu antisipasi pasti untuk hidup yang kelak jauh lebih baik. Kebahagiaan itu terjadi bukan karena hidup sekarang sudah tidak ada penderitaannya lagi, tetapi karena kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup sekarang ini.
Mari kita berjuang untuk mempraktikkan nilai-nilai kerajaan Allah dalam hidup kita sehari-hari, sehingga kita dapat mengalami kebahagiaan sejati, baik sekarang maupun di masa depan. Imanuel.
Pdt. Adi Cahyono








