Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya. Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya. Awalnya Bai Fang Li memiliki tiga orang anak asuh yang ditipkan, ketiga anak ini kakak beradik dari keluarga yang sangat miskin dan ditinggal pergi oleh orang tuanya. Setiap hari ia mengayuh becaknya dengan semangat dan hidup begitu hemat bahkan hampir tidak pernah menggunakan uangnya untuk dirinya sendiri. Sampai akhirnya Bai Fang Li menutup mata diusia 93 tahun dalam kemiskinan namun bila dihitung hampir seumur hidupnya Bai Fang Li stelah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah, jika tidak salah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.
Dialam pembacaan firman Tuhan juga dikisahkan tentang orang miskin yaitu janda yang miskin yang memberikan persembahan dengan kesungguhan hatinya. Pada sisi lain Tuhan Yesus mengkritik dengan sangat tajam perilaku para pembesar yaitu ahli-ahli Taurat yang seringkali mengambil keuntungan dari bait suci dan aktifitas peribadahan untuk kesenangannya sendiri.
Dalam renungan kita ini Firman Tuhan mengingatkan petapa pentingnya kita memberikan persembahan yang terbaik. memang jumlah penting namun jauh lebih penting adalah ketulusan dan kesungguhan hati kita. Memberi juga bentuk dari ucapan syukur kita dan cara untuk melepaskan kita dari kesombongan dan "mencuri" untuk kepentingan kita sendiri. Apapun alasannya tidak dapat dibenarkan. toh memberi tidak akan membuat kita miskin bukan? SolaGracia







