Di media sosial sekarang ini dengan mudahnya orang mengungkapan perasaan, pendapat/pemikirannya terhadap keputusan/sikap/perilaku seseorang tanpa tedeng aling-aling (bisa disebut reaktif). Maksudnya diungkapkan dengan terbuka, spontanitas dan terlihat tidak berpikir secara panjang dan mendalam serta isinya seolah-olah lebih tahu dari orang yang mengalaminya. Komentar/pendapat seperti itu biasanya sangat prematur, bahkan bisa menjadi HOAKS yang berakibat merusak (destruktif) pada khalayak banyak. Umumnya pendapat itu bersifat menghakimi/mengadili atau penolakan yang sebenarnya untuk menutupi/menyelebungi perasaan kecewa, merasa tersaingi atau merasa lebih rendah.
Dalam Lukas 4:21-30 dikisahkan bahwa Yesus mengalami “krisis” penolakan di Nazaret. Alasannya adalah karena penduduk Nazaret tidak dapat percaya bahwa Yesus, yang terdaftar sebagai penduduk kota itu, yang ayahnya seorang tukang kayu, ternyata adalah Mesias yang dinubuatkan oleh Yesaya. Padahal ada banyak hal yang bisa ditunjukkan untuk membuktikan kebenaran bahwa Yesus adalah Mesias. Yesus memaklumi penolakan ini bahkan secara sadar Yesus mengatakan bahwa “seorang nabi memang tidak pernah dihormati di tempat asalnya.” Yesus pun mengungkapkan peristiwa pada zaman nabi Elia dan nabi Elisa saat Allah memulihkan kehidupan seorang janda di Sarfat, juga Naaman, orang Siria (ay.24-27). Sebuah untaian kata yang singkat dan padat, namun penuh dengan makna yang sangat mendalam. Yesus mengungkapkan itu untuk memperkuat pernyataan-Nya tersebut dengan melihat sikap nenek moyang mereka (Israel) terhadap nabi-nabi Allah tersebut. Orang-orang Israel pada saat itu tidak memikirkan dampak dari penolakan tersebut terhadap generasi selanjutnya di hadapan Allah.
Kabar baik yang dibawa oleh nabi-nabi itu yang seharusnya untuk mereka dengar, karena berhubungan dengan masa depan mereka sebagai umat Allah. Akhirnya kesempatan itu diberikan kepada orang-orang non Yahudi, yaitu janda di Sarfat dan Naaman, orang Siria. Dalam pandangan orang Israel, keduanya tidak termasuk sebagai orang yang diperhitungkan Allah karena mereka tidak termasuk dalam bilangan orang pilihan Allah. Namun Allah berbelas kasihan atas mereka dan kemudian membebaskan mereka.
Reaksi orang banyak terhadap komentar Yesus tersebut adalah kemarahan yang hebat sehingga mereka mau membinasakan Yesus. Reaksi itu membuktikan kata-kata Yesus benar. Penolakan terhadap misi Yesus berakar dari ketidakpercayaan mereka. Mereka menolak untuk disamakan dengan janda Sarfat yang adalah orang kafir, miskin, dan tak berpengharapan. Apalagi disamakan dengan Naaman yang kafir dan berpenyakit kusta dikutuk Allah. Orang Nazaret adalah bangsa pilihan Allah, hidup beribadah, berpenghidupan layak, dan tidak sedang di bawah kutukan Allah. Karena itulah mereka tidak membutuhkan Yesus dan Injil-Nya.
Secara tidak sadar kita seringkali juga mudah bersikap sama, ketika kita mendengar perkataan yang didasarkan pada firman Tuhan, terkadang kita merasa direndahkan atau atau dipersalahkan lalu tidak mempercayai perkataan-perkataan itu. Hal ini diperparah dengan respon yang cenderung defensive. Padahal seringkali perkataan-perkataan itu sebenarnya dapat memperbaiki diri kita untuk menjadi lebih dewasa, bijaksana dan tentunya semakin berkenan di hadapan Allah. Ingatlah, Tuhan bisa memakai siapa saja untuk menyampaikan kebenaran firman-Nya. Kita memang harus responsif tetapi bukan reaktif! Marilah kita berusaha untuk peka terhadap segala sesuatu, namun meresponlah dengan tepat dan bijak. Ingatlah bahwa setiap perkataan-perkataan kita mestinya bermakna dan bisa berdampak bagi orang yang mendengarnya.
Pdt. Adi Cahyono, M.Si